Pejabat Tidak Etis | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 6 2019
No Comments

Pejabat Tidak Etis

Pejabat Tidak Etis
A   A   A   Pengaturan Font

Sebuah perilaku yang tidak etis di depan publik diperli­hatkan oleh dua pejabat negara. Mereka adalah Wali Kota Tangerang, Arief Rachadiono Wismansyah, dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Yasonna H Laoly. Mereka bertengkar dan saling lapor ke polisi terkait dengan keberadaan Gedung Politeknik Ilmu Pemasyarakatan dan Politeknik Imigrasi, di Jalan Satria Sudirman Tanah Tinggi, Kota Tangerang.

Wali Kota Tangerang, Arief Rachadiono Wismansyah, pu­nya alasan mengapa menghentikan pelayanan publik di la­han Kemenkumham. Lahan tempat berdirinya Politeknik Ilmu Pemasyarakatan dan Politeknik Imigrasi itu adalah la­han yang masuk dalam Ruang Terbuka Hijau (RTH). RTH ini yang menjadi alasan mengapa Arief tidak mengeluarkan IMB kepada Kemenkumham.

Risiko yang ditanggung Arief tentu sangat fatal sekali bila mengeluarkan IMB di kawasan RTH. Dia bisa dipidana. Se­lain itu, ada instruksi dari Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Pertanian agar lahan itu dijadikan lahan persa­wahan. Karena itu, Arief mengambil sikap tegas bahkan sem­pat menghentikan pembangunan politeknik itu sebelumnya.

Kemenkumham, menurut versi Arief, sering memberikan harapan palsu. Arief merasa tidak digubris oleh Kementerian Hukum dan HAM soal lahan di Tangerang itu. Padahal per­masalahan lahan milik Kemenkumham itu sudah diurus se­jak 2014. Namun, tidak ada upaya dari Kemenkumham untuk menyelesaikannya dengan Pemkot Tangerang

Walaupun tidak memberikan izin IMB, politeknik itu tetap berdiri dan Pemkot tetap memberikan layanan publik untuk warga di sekitarnya. Itu dilakukan Arief karena alasan kema­nusian. Warga yang ada di atas lahan Kemenkumham itu ada sekitar 15.000-an. Tetapi ketika Yasonna menyindir Arief soal perizinan pembangunan di lahan milik Kemenkumham yang tak kunjung terbit itu, saat peresmian Gedung Politeknik Ilmu Pemasyarakatan dan Politeknik Imigrasi di Jalan Satria Sudirman Tanah Tinggi, Kota Tangerang pada 3 Juli 2019 lalu itu, ketika itulah Arief merasa tersinggung.

Yasonna melemparkan kesalahan kepada Arief, padahal Yasonna lah yang tidak mau mematuhi aturan perundang-undangan yang ada. Arief ters­inggung dan dipermalukan ke depan publik. Akhirnya, Arief mengambil sikap tegas. Arief memutuskan tidak akan memberikan pelayanan di atas lahan Kemenkumham itu, tepatnya perkantoran di Kompleks Kehakiman dan Pengayoman, Tangerang. Pe­layanan tersebut mencakup penerangan jalan umum, per­baikan drainase, dan peng­angkutan sampah.

Walaupun konflik antara Wali Kota Tangerang, Arief Ra­chadiono Wismansyah, dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Yasonna H Laoly akhirnya bisa didamaikan, tetapi pertengkaran yang mereka umbar di depan publik sangat tidak etis dan tidak mendidik. Mereka sepakat mencabut laporan mereka ke polisi. Kesepakatan itu tercapai usai Ar­ief dan Sekjen Kemenkumham, Bambang Sariwanto, diper­temukan oleh pihak Kementerian Dalam Negeri.

Pertemuan berlangsung di Kantor Kemendagri, Jakarta, Kamis (18/7) siang. Pertemuan itu dipimpin oleh Sekjen Kemendagri, Hadi Prabowo. Hadir juga Gubernur Ban­ten, Wahidin Halim. Pertemuan berlangsung tertutup se­lama sekitar dua jam. Permasalahan IMB Politeknik milik Kemenkumham, yang menjadi pemicu utama konflik itu, akan diselesaikan dengan bantuan Gubernur Banten da­lam jangka waktu tiga hari ke depan.

Perbedaan pendapat tentang sesuatu merupakan hal yang lumrah di era demokrasi saat ini. Yang menjadi tidak lazim adalah dua pejabat negara di dalam sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia mengumbar pertengkaran itu di ranah publik. Publik menjadi semakin miris saat sa­lah satu dari mereka mengambil sikap yang sampai men­gorban kepentingan masyarakat. Padahal, keberadaan atau tujuan utama sebuah lembaga pemerintahan itu memberi­kan pelayanan publik. Mereka memperlihatkan egonya ma­sing-masing. Yang terkena dampak dan dirugikan adakah masyarakat. Mereka tidak memberikan pendidikan politik yang baik kepada publik.

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment