Koran Jakarta | September 18 2019
No Comments
EDISI KHUSUS KEMERDEKAAN

Pembelajaran Budaya Luhur

Pembelajaran Budaya Luhur

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Membangun empati dan partisipasi pub­lik untuk terlibat aktif dalam pelestarian, bahkan mempromosikan keragaman, kekayaan budaya, menghor­mati masyarakat adat Nusan­tara dengan beragam adat istiadat yang dimilikinya, kini menjadi sangat penting.

Untuk mecapai tahap itu, sumber pembelajaran yang dapat dilakukan melalui pen­didikan formal, melalui pema­haman soal midset masyarakat adat dalam kehidupannya, baik yang berkaitan dengan kehidupan sesama, alam dan lain-lainnya.

Sebagai contoh, dunia pe­lestarian internasional saat ini memberi dukungan kuat untuk menyikapi berbagai tekanan dalam isu lingkungan, khusus­nya perubahan iklim global melalui pendekatan budaya.

Sehingga dalam situasi sekarang ketika terjadi krisis iklim global, peranan komu­nitas masyarakat adat, beserta budaya, sekaligus cara pan­dang terhadap alam, merupa­kan jawaban utamanya. “Akan sangat bagus jika pandangan leluhur masuk ke ruang-ruang pendidikan formal saat ini,” saran Catrini.

Masalahnya, peranan budaya di ruang pendidikan formal belum terumuskan dengan maksimal. “Se­cara umum betul, dunia pendidikan formal memang terasa baru menyentuh bagian keseniannya saja. Padahal bicara kebudayan secara umum itu setidak­nya ada 7 unsur yang harus dikuatkan, dan semua memiliki peranan penting. Misal religi, ini sumber dari binekatunggal ika, saling menghormati antar peme­luk agama, tidak menghujat, saling memahami itu nilai yang perlu diperkuat di ruang pendidikan formal,” terang arkeolog-antropolog Universitas Indonesia, Cecep Eka Permana kepada Koran Jakarta.

Melalui pemahaman unsur budaya ini, jika diterapkan se­cara tepat sebenarnya men­jawab tantangan di pola hidup masyarakat di era modern, yang tak dipungkiri dipenuhi dengan budaya hasut yang memecah belah.

“Apa yang dilakukan leluhur kita dahulu tidak demikian, justru mempersatukan. Peranan unsur bahasa sangat penting sebagai pemersatu daerah kala itu, tugas kita generasi sekarang menjaganya agar tetap lestari, jangan sampai punah. Misalnya, anak Jawa tidak bisa ngomong Jawa. Itu artinya dari segi pelestarian kebudayaan unsur bahasa telah luntur,” ceritanya.

Belum lagi jika kita meng­gali lebih jauh bahasa pepatah kuno daerah yang menyisip­kan pesan edukatif. Cecep me­nilai berbagai pesan itu sangat baik jika diajarkan pada gene­rasi muda, karena sebenarnya misi di balik orang dahulu itu sebagai ‘pengingat’ agar tidak asal berbicara, karena dapat berdampak buruk dan merugi­kan diri sendiri.

Sebagai medium edukasi, banyak yang perlu dirumus­kan, sekaligus disisipkan sebagai sumber pembelajaran ilmu budaya di ruang-ruang pendidikan kekinian.

Jika direnungkan kembali, semua yang diajarkan leluhur sangat relevan, hanya saja butuh penyesuaian tafsir di dalamnya.

Cecep menceritakan, dunia pelestarian internasional yang saat ini memberi dukungan kuat untuk menyikapi berbagai tekanan dalam isu lingkungan khususnya perubahan iklim global, melalui pendekatan budaya. ima/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment