Pemberantasan Korupsi Dimulai dari Hal Sederhana | Koran Jakarta
Koran Jakarta | January 19 2020
No Comments
Hari Antikorupsi Sedunia

Pemberantasan Korupsi Dimulai dari Hal Sederhana

Pemberantasan Korupsi Dimulai dari Hal Sederhana

Foto : ANTARA/MAULANA SURYA
KAMPANYE ANTIKORUPSI I Pengunjung membubuhkan cap tangan saat kampanye antikorupsi di lokasi kegiatan Hari Bebas Kendaraan Bermotor atau Car Free Day (CFD) Solo, Jawa Tengah, Minggu (8/12).
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meng­ajak semua pihak untuk sama-sama memberantas korupsi dengan dimulai dari hal-hal yang sederhana.

“Saya bilang kalau SIM (Surat Izin Mengemudi) tidak lulus, jangan nyogok sampai kapan pun. Jangan melang­gar lalu lintas. Jangan buang sampah sembarangan. Ma­hasiswa jangan titip absen. Jadi, kita harus lihat dari yang sederhana,” kata Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang, saat menghadiri Festival Film Antikorupsi 2019 sebagai rangkai­an dari kegiatan peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Ha­kordia) 2019, di Jakarta, Minggu (8/12). Puncak Hakordia 2019 akan digelar di Gedung Merah Putih KPK Jakarta pada hari ini, Senin (9/12).

Menurut Saut, peringatan Hari Antikorupsi Sedunia di­adakan untuk membuat sadar bahwa kasus korupsi bisa merusak suatu negara. “Hari Antikorupsi sesungguhnya agar dunia sadar bahwa korupsi bisa bikin kiamat suatu ne­gara, kemudian negara jadi bubar. Negara jadi tidak efisien, tidak efektif, dan terjadi ketidakadilan,” katanya.

Saut memaparkan, isu radikalisme saat ini banyak dari isu korupsi di depannya. “Radikal itu background-nya macam-macam, radikal agama, radikal ideologi, bahkan radikal eko­nomi. Radikal ekonomi umpamanya kalau dia dilakukan ti­dak adil, kemudian dia lakukan ketidakadilan juga,” jelasnya.

Saut menjelaskan, jika ingin berubah, Indonesia mesti meningkatkan Indeks Persepsi Korupsi. Saat ini, Indonesia berada di angka 38. “Kalau mau berubah, 2045 dengan In­deks Persepsi Korupsi 50 atau 60, kita harus mulai dari se­karang. Pedang pemberantasan itu di Kepala Negaranya,” kata Saut.

Tahun Sulit KPK

Sementara itu, Ketua KPK, Agus Rahardjo, menilai ta­hun 2019 sebagai tahun yang sulit bagi KPK.

“Kita harus selalu berharap meskipun tahun 2019 ini adalah tahun berat, mungkin kita juga perlu merenung, jangan-jangan ada strategi baru yang ingin diperkenalkan oleh panglima pemberantasan korupsi kita. Kita bicara panglima selalu panglimanya adalah Presiden, kemudian wakilnya adalah Wakil Presiden,” katanya.

Agus berharap akan ada hasil dari strategi baru itu. Dia meminta masyarakat ikut mengontrol strategi pemberan­tasan korupsi ke depannya.

“Oleh karena itu, kita harapkan dengan strategi yang baru, mudah-mudahan nanti hasilnya memang kelihatan. Oleh karena itu, kita yang di KPK maupun dari civil soci­ety maupun seluruh komponen bangsa dalam mengontrol, harus selalu mengingatkan bahwa perjuangan kita masih panjang,” ucap dia.

Menurutnya, saat ini korupsi masih menjangkiti nega­ra ini. Untuk melawan itu, perlu daya tahan dan kesabaran yang tinggi. Ant/ola/AR-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment