Koran Jakarta | June 27 2019
No Comments
JENAK

Pemilu 2019 “Diundur”

Pemilu 2019 “Diundur”

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font
CATATAN ARSWENDO

Pemilu yang tinggal empat hari lagi bakal diundur. Ditulis dengan atau tanpa tanda tanya tetap saja membelah pendapat: hoaks atau bukan hoaks. Untuk hal-hal begitu besar, tetap tersedia dua jenis jawaban, yaitu benar-benar terjadi, atau kebohongan.

Mungkin karena itu menjadi melelahkan. Berita berapa jumlah peserta satu kegiatan di GBK, Gelora Bung Karno, atau Monas, atau mana saja yang di daerahdaerah seluruh pelosok negeri ini, tetap saja ada dua versi. Bahkan pemberitanya sama, terpaksa dua kali memberitahukan, dengan penjelasan dari dua cara perhitungan dan pandangan yang berbeda.

Tujuh bulan masa kampanye tujuh kali tujuh bulan yang hiruk pikuk. Bukan sekadar todongan minta dukungan di sepanjang jalan tokoh yang mau menjadi wakil rakyat tingkat pusat maupun daerah, atau wakil golongan. Wajah yang nyaris tak dikenal dengan simbol partai dan atau wajah ketua umum partai dan “menyuruh kita yang tak mengenalnya mencoblos dan memberi tahu caranya”.

Dan ini di sepanjang jalan yang kita lalui, pulang-balik, dan terus “menteror”. Ini bagian dari informasi yang menggempita di antara berita alun-alun besar antara diberitakan kosong atau “pecah” --tak mampu memuat peserta. Sangat membingungkan, apalagi komentar tokoh yang kita kenali mendadak ini memberi ulasan dan diminta lagi di stasiun lainnya.

Kasus kartu pemilih yang katanya sudah dicoblos menggenapi hal-hl semacam ini. Rasanya dalam tujuh bulan hanya berbentur-bentur di peristiwa seperti ini, dengan tambahan kata makian. Bahkan sampai tingkat paslon pun ada kata makian yang tak pantas diucap ulang atau dituliskan di sini. Saya termasuk korban yang menerima informasi semacam itu, menggerutu, namun menemui jalan buntu.

Pihak stasiun televisi yang menyiarkan kata itu beredar, paling hanya bisa membisukan tanpa kata pada siaran berikutnya. Saya termasuk korban yang terkuasai oleh perdebatan pendapat dan lagi-lagi teriakan saling klaim bodoh, dungu, atau sejenis itu.

Saya mempunyai pilihan pada Pemilu 2019—seperti pada pemilu-pemilu sebelumnya, alias tidak golput, tapi bukan anggota tim kampanye, tim buzzer, atau kelompok dengan afiliasi tertentu. Hal ini pun sulit dijelaskan kepada statsiun TV, yang membagi narsum dalam dua pilihan saja. Beberapa narsum mengalami nasib dan posisi seperti saya ini.

Punya pilihan, namun bukan anggota resmi. Maka beberapa kemungkinan muncul dalam bentuk, antara lain humor, dalam bentuk meme, dalam bentuk tulisan lucu. Kelompok pendukung memakai sebutan “komunitas pemakan bubur tanpa diaduk”, atau komunitas yang menyatakan sebagai “pemijat refleksi khusus demo”, atau sebut apa saja yang menggelikan dan tak masuk akal, “komunitas pipis depan pagar tetangga” misalnya.

Kegelian ini tanda kegelisahan suasana kampanye yang ternyata banyak yang tak mengenakkan— namun tak bisa dihindari. Ketidaknyamanan terutama dari kawan dekat, akrab, satu grup, yang tibatiba menjadi aneh sikapnya. Sehingga meskipun tinggal empat hari lagi, mereka ini tak berkeberatan diundur sampai lima tahun yang akan datang.

Dan begitulah, dasar yang paling dasar yang harus kita ikuti ketika kita menempuh jalan demokrasi, melalui terjemahan yang mudah dan bisa diterima. Mungkin nanti kedewasaan: tak usah makian, pelecehan, penipuan, melainkan upaya tulus untuk kebersamaan dengan biaya murah. Selamat tinggal Pemilu 2019, senangnya mengucapkan kata perpisahan ini.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment