Koran Jakarta | October 16 2019
No Comments
Konflik Politik I Aktivis Joshua Wong Akan Kunjungi Washington

Pemimpin Hong Kong Akan Gelar Dialog Terbuka

Pemimpin Hong Kong Akan Gelar Dialog Terbuka

Foto : AFP/ANTHONY WALLACE
A   A   A   Pengaturan Font
Berbagai isu akan diangkat dalam dialog tersebut, termasuk masalah perumahan dan tempat tinggal di kota berpenduduk 7,4 juta itu.

 

HONG KONG -Pemimpin eksekutif Hong Kong, Carrie Lam, akan menggelar dialog dengan masyarakat pekan depan demi menghentikan demonstrasi warga yang se­lalau rusuh dan telah ber­langsung selama tiga bulan terakhir. Carrie mengatakan dialog itu akan terbuka untuk umum. Setiap warga, tuturnya, dapat mendaftar untuk hadir dalam dialog tersebut.

“Masyarakat Hong Kong telah mengalami akumulasi masalah ekonomi, sosial, bah­kan politik yang mengakar. Saya berharap berbagai bentuk dia­log ini dapat menjadi landasan bagi kita (pemerintah-warga) untuk berdiskusi,” ucap Carrie di Hong Kong, Selasa (17/9).

Ia menuturkan berbagai isu akan diangkat dalam dialog tersebut, termasuk masalah perumahan dan tempat tinggal di kota berpenduduk 7,4 juta itu. Sebagian masyarakat Hong Kong, terutama generasi muda, selama ini merasa frustrasi ter­kait harga sewa atau beli tem­pat tinggal yang sangat tinggi.

“Tapi saya harus tekankan di sini, dialog nanti bukan be­rarti kita harus mengambil tindakan tegas. Menghindari kekerasan yang terjadi di hada­pan kita masih menjadi priori­tas,” kata Carrie.

Hong Kong merupakan wilayah bekas jajahan Inggris yang kemudian diserahkan ke Tiongkok pada 1997 silam. Rentetan unjuk rasa terus mendera wilayah di tenggara Tiongkok itu dalam beberapa bulan belakangan.

Demonstrasi dipicu oleh pembahasan RUU Ekstradisi. Dalam rancangan awal, RUU tersebut memungkinkan ter­sangka satu kasus di Hong Kong diadili di wilayah lain, termasuk Tiongkok.

Pembahasan tersebut me­micu protes dari masyarakat Hong Kong. Untuk mengakhiri protes tersebut, Carrie mengu­mumkan resmi membatalkan pembahasan RUU ekstradisi pada minggu ini.

Namun, upaya tersebut belum memuaskan pengun­juk rasa. Demonstrasi terus berkembang dengan tuntutan akhir, mendesak Carrie Lam mundur. Mereka juga mende­sak agar Hong Kong bisa me­lepaskan diri dari Tiongkok.

Hampir 1.500 orang ditahan terkait demonstrasi sejak Juni lalu. Unjuk rasa besar-besaran dan sporadis selama ini juga dinilai melemahkan pereko­nomian Hong Kong, salah satu pusat ekonomi di Asia. Pedemo bahkan sempat mem­blokade Bandara Internasional Hong Kong, bandara terpadat kedelapan di dunia, selama dua hari hingga membatalkan seluruh penerbangan dari dan menuju kota itu.

Desak AS

Sementara itu, aktivis pro-demokrasi Hong Kong, Joshua Wong, akan melanjutkan kun­jungan luar negerinya ke Wash­ington, Amerika Serikat selepas dari Jerman. Dia meminta dukungan anggota Kongres AS agar mendesak Tiongkok memenuhi sejumlah tuntutan demonstran, yakni membebas­kan ribuan rekan mereka yang ditahan polisi, menggelar pe­nyelidikan independen terha­dap dugaan kekerasan aparat, dan meminta Pemimpin Hong Kong Carrie Lam mundur.

“Kami mengharapkan du­kungan bipartisan,” kata Wong di New York saat disinggung mengenai perjalanannya ke Washington.

Wong mendesak agar anggota Kongres AS menuntut di­masukkannya klausa HAM dalam negosiasi perang dagang AS-Tiongkok yang sedang ber­langsung. Ia juga berharap agar anggota Kongres meloloskan UU Hak Asasi Manusia dan De­mokrasi Hong Kong.

Sebelumnya Senator AS, Chuck Schumer, telah mendo­rong RUU bipartisan yang akan mengatur perlakuan khusus yang diberikan Washington kepada Hong Kong, termasuk perdagangan khusus dan hak istimewa bisnis di bawah UU Kebijakan Hong Kong AS ta­hun 1992. RUU itu juga akan mengatur sanksi bagi pejabat di Tiongkok dan Hong Kong yang merusak otonomi kota.Schumer mengatakan RUU tersebut akan menjadi priori­tas di sesi terbaru Partai De­mokrat di Senat AS di awal bu­lan ini. AFP/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment