Perekonomian Kehilangan Daya Pacu | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 6 2019
No Comments
Kinerja Ekonomi - Pertumbuhan Ekonomi pada Triwulan I-2019 di Bawah Capaian Triwulan I-2018

Perekonomian Kehilangan Daya Pacu

Perekonomian Kehilangan Daya Pacu

Foto : ISTIMEWA
Suahasil Nazara
A   A   A   Pengaturan Font
Mesin penggerak utama pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2019 masih bertumpu pada konsumsi domestik, mengingat investasi dan ekspor belum bisa diandalkan.

 

 

JAKARTA – Laju perekonomian dalam negeri diperkirakan kehilangan daya pacunya dan cenderung stagnan pada triwulan kedua tahun ini. Kedua penggerak perekonomian, investasi dan ekspor sepanjang April-Juni melambat sehingga belum mampu berkontribusi dalam memacu pertumbuhan ekonomi nasional.

Dengan demikian, mesin penggerak pertumbuhan ekonomi pada triwulan kedua tahun ini nyaris semua bertumpu pada konsumsi domestik. Karenanya, pertumbuhan ekonomi pada triwulan kedua tahun ini dinilai kurang optimal atau bahkan sedikit melambat dibandingkan periode sama tahun lalu (yoy).

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Suahasil Nazara memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2019 berada pada kisaran 5,05-5,15 persen. Namun, Suahasil menambahkan proyeksi tersebut tidak setinggi capaian pada periode sama 2018 yang tercatat tumbuh 5,27 persen. “Kita perkirakan 5,05-5,15 persen, atau lebih baik dari triwulan satu 2019,” katanya dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat pekan lalu.

Suahasil mengatakan kinerja perekonomian akan didukung oleh konsumsi rumah tangga yang terbantu oleh peningkatan belanja masyarakat pada periode Lebaran 2019.

Selain itu, konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) juga ikut memberikan kontribusi kepada perekonomian karena meningkatnya kegiatan untuk penyelenggaraan pemilihan umum (pemilu). Dia mengharapkan sektor investasi yang melambat pada triwulan I-2019 mulai berdampak positif ke depannya, setelah pelaku usaha menunda aksi karena menunggu hasil pemilu.

“Kita melihat investasi agak sedikit melambat, karena ada pemilu. Jadi, investor wait and see menunggu selesainya pemilu. Tapi kita harap mulai Juni ada kontribusi investasi lagi,” ujarnya.

 

Cenderung Melandai

 

Proyeksi tersebut tak berbeda jauh dengan prediksi yang disampaikan Bank Indonesia (BI) sehari sebelumnya. Kamis pekan lalu, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2019 cenderung melandai atau tidak jauh berbeda dibandingkan capaian pada triwulan I-2019 sebesar 5,07 persen secara yoy.

Penilaian itu didasarkan pada pertimbangan bawah masih tertekannya ekspor Indonesia di tengah pemburukkan hubungan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok di pasar global. “Kami melihat triwulan II-2019, memang ekspor masih terjadi penurunan. Meskipun dengan penurunan ekspor, impor juga turun,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo, beberapa waktu lalu.

Selain terjadi penurunan ekspor dan impor, Bank Sentral memperkirakan investasi nonbangunan juga belum menggeliat. Sumber-sumber untuk menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2019 diperkirakan Perry disumbang konsumsi rumah tangga setelah masyarakat berkonsumsi tinggi dalam perayaan Idul Fitri dan Ramadhan, serta juga andil dari investasi bangunan.

Selain itu, pencairan bantuan sosial dari pemerintah juga diperkirakan mendorong konsumsi masyarakat serta menjaga daya beli, yang mengkompensasi buruknya kinerja ekspor, dalam pembentukan Produk Domestik Bruto triwulan II-2019. “Konsumsi rumah tangga cukup baik, terutama di kuartal kedua, bersamaan puasa dan Idul Fitri,” lanjutnya.

Karena itu, menurut Perry, perlu upaya bersama-sama pemerintah meningkatkan permintaan domestik guna mencegah dampak negatif dari perlambatan ekonomi dunia karena perang dagang dan sumber lain ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. 

 

mad/Ant/E-10

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment