Koran Jakarta | November 13 2019
No Comments
Ancaman Resesi I CAD Kuartal III Dikhawatirkan Makin Bengkak

Perlu Antisipasi Kenaikan Defisit Neraca Migas

Perlu Antisipasi Kenaikan Defisit Neraca Migas

Foto : Sumber: BPS – Litbang KJ/and - KJ/ONES
A   A   A   Pengaturan Font
Jika ingin pertahankan surplus perdagangan secara berkualitas maka defisit migas harus konsisten dikurangi.

 

JAKARTA – Sejumlah kalangan menilai mes­kipun neraca perdagangan pada Agustus 2019 membukukan surplus 80 juta dollar AS, namun kinerja perdagangan Indonesia sebenarnya berada dalam tren pelemahan. Hal ini ditandai dengan penurunan kinerja ekspor dan impor.

Selain itu, pemerintah diminta perlu segera membenahi kinerja neraca minyak dan gas (migas) karena secara bulanan pada Agustus lalu justru membukukan kenaikan defisit men­jadi 755 juta dollar AS.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhari­yanto, mengemukakan surplus neraca perda­gangan Agustus lalu lebih baik dibandingkan capaian Juli 2019 yang mengalami defisit sebe­sar 64,3 juta dollar AS dan Agustus 2018 yang juga defisit 1,02 milliar dollar AS.

Secara kumulatif, defisit neraca perda­gangan sepanjang Januari–Agustus 2019 men­capai 1,81 milliar dollar AS. Defisit ini lebih rendah dari periode sama 2018 yang sebesar 8,09 milliar dollar AS.

“Surplus neraca dagang (Agustus 2019) ka­rena nilai ekspor mencapai 14,28 milliar dollar AS dan impor hanya 14,20 milliar dollar AS,” papar Suhariyanto, di Jakarta, Senin (16/9).

Nilai ekspor Indonesia Agustus 2019 menca­pai 14,28 miliar dollar AS atau turun 7,60 persen dibanding ekspor Juli 2019, dan menyusut 9,99 persen jika dibandingkan ekspor Agustus 2018.

Di sisi lain, nilai impor Indonesia Agustus 2019 mencapai 14,20 miliar dollar AS atau tu­run 8,53 persen dibandingkan Juli 2019, dan jika dibandingkan dengan Agustus 2018 turun 15,60 persen.

Sementara itu, peneliti Indef, Bhima Yu­dhistira, meminta pemerintah untuk lebih fo­kus mengurangi defisit sektor migas. Pasalnya, jika dilihat dari defisit migas Agustus lalu justru meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.

“Jika ingin pertahankan surplus perda­gangan secara berkualitas maka defisit migas harus konsisten dikurangi dengan penam­bahan produksi lifting domestik. Insentif bagi pemain migas perlu diperbaiki dan dipertajam, karena kurang nendang,” tukas dia.

Neraca migas Agustus 2019 defisitnya me­ningkat menjadi 755 juta dollar AS, lebih tinggi dari defisit pada bulan sebelumnya yang sebe­sar 142 juta dollar AS. Kondisi tersebut tidak terlepas dari dampak penurunan ekspor migas sejalan dengan pelemahan harga minyak.

Sementara itu, impor migas juga menurun terutama dipengaruhi oleh lebih rendahnya harga impor baik barang mentah maupun ha­sil olahan.

Jangan Lengah

Pakar statistik dari ITS, Kresnayana Yahya, mengingatkan pemerintah tidak boleh lengah dengan surplus tipis neraca perdagangan ka­rena hal tersebut bersifat sementara. Selain itu, komoditas mentah masih memegang peran dalam surplus tersebut, sehingga peran ekspor sektor manufaktur perlu lebih diperkuat karena akan memberikan nilai tambah.

“Yang mendongkrak sebagian besar masih dari jenis komoditas, jadi kinerja perdagangan ke depan tetap bergantung pada pasang surut harga,” jelas dia.

Menurut Kresnayana, yang perlu dilakukan pemerintah tentunya harus mengupayakan ma­kin banyak komoditas mentah yang diolah men­jadi branded good dan produk akhir. Akan tetapi, lanjut dia, untuk ekspor komoditas ini tidak bisa cepat melakukan transformasi ke produk olahan.

“Sebab, memang produk olahan kita masih belum kuat bersaing di pasar global. Maka agar berhasil, harus ada yang diprioritaskan. Con­tohnya, ekspor garmen masih punya peluang, tapi kita harus punya added value seperti da­lam hal desain, agar lebih dapat bersaing. Begi­tu juga furnitur,” papar dia.

Terkait dampak melemahnya kinerja perda­gangan Indonesia, pelaku pasar mengkhawa­tirkan surplus neraca dagang yang lebih ren­dah dari ekspektasi itu akan membuat defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) akan terus bengkak di kuartal III-2019. Menurut pelaku pasar, apabila CAD tidak bisa dibenahi maka nilai tukar rupiah berpeluang terdepresiasi sehingga akan mengganggu fun­damental ekonomi nasional.

Pada kuartal I-2019, Bank Indonesia (BI) mencatat CAD di level 2,6 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Kemudian pada kuartal II-2019, CAD membengkak menjadi 3,04 per­sen dari PDB. ers/SB/bud/WP

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment