Perlu Perkuat Industrialisasi Sektor Pertanian | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 11 2019
No Comments
Antisipasi Resesi I Hambat Impor, Tingkatkan Daya Saing Pertanian

Perlu Perkuat Industrialisasi Sektor Pertanian

Perlu Perkuat Industrialisasi Sektor Pertanian

Foto : Sumber: BPS, Bank Dunia – Litbang KJ/and - kj/ones
A   A   A   Pengaturan Font
Produktivitas dan nilai tambah pertanian mesti dipacu dengan menerapkan inovasi teknologi termasuk mendorong modernisasi pertanian.

 

JAKARTA – Periode kedua pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) diharapkan mampu meningkatkan kinerja sektor pertani­an, terutama memperkuat target industrialisasi pertanian dengan melibatkan desa dan petani sebagai pelaku utama.

Strategi tersebut dinilai bisa menjaga pertum­buhan ekonomi Indonesia dari ancaman resesi global. Selain itu, pembangunan pertanian di perdesaan juga berpotensi menyerap banyak te­naga kerja sehingga membantu mengatasi ma­salah kemiskinan, mengurangi dorongan urban­isasi, dan secara berkelanjutan menghindarkan Indonesia dari jebakan negara berpenghasilan menengah atau middle income trap.

Guru Besar Fakultas Pertanian UGM, Dwijo­no Hadi Darwanto, mengemukakan kapasitas sektor pertanian sebagai salah satu penyerap tenaga kerja terbesar mesti dioptimalkan kem­bali untuk menyediakan lapangan kerja bagi usia produktif terutama di perdesaan.

Oleh karena itu, kementerian pertanian ha­rus mempunyai target soal kesejahteraan peta­ni karena usaha di hulu, misalnya pupuk, dan di hilir terutama perdagangan, usaha tani bisa memberi kekayaan bagi pelakunya. Akan te­tapi, sampai saat ini petani di sektor on-farm masih tetap miskin.

“Berarti konsep pengembangan pertani­an masih belum maju dan tidak berorientasi perdesaan. Pengembangan teknologi di bidang pertanian berdasarkan IT (teknologi informa­si) untuk menuju sistem pertanian 4.0 bagus, asalkan sekaligus tetap bermanfaat bagi peta­ni pada umumnya di perdesaan,” tandas Dwi­jono, ketika dihubungi, Senin (14/10).

Menurut dia, industri dan teknologi infor­masi mesti berbasis pada realitas di perde­saaan, sehingga kemajuan diartikan sebagai terangkatnya gerbong tenaga kerja desa serta kemiskinan di desa berubah menjadi keman­dirian dan kemakmuran.

Terkait dengan kapasitas sektor pertanian, kontribusi sektor pertanian (meliputi pertanian, kehutanan, dan perikanan) terhadap Produk Do­mestik Bruto (PDB) selalu dalam tiga sektor kon­tributor terbesar dengan porsi 12–13 persen sela­ma beberapa tahun terakhir. Namun pada tahun ini, kontribusinya diprediksi menyusut jadi 12,36 persen, dari 12,81 persen pada tahun lalu.

Sektor pertanian juga merupakan salah satu sektor yang menyerap tenaga kerja paling be­sar. Dari total angkatan kerja yang mencapai 131 juta jiwa, 35 juta di antaranya merupakan pekerja di bidang agribisnis. Akan tetapi, sera­pan yang begitu besar itu dinilai tidak diim­bangi dengan produktivitas yang tinggi.

Pada 2015, pemerintah mencatat produk­tivitas sektor pertanian sebesar 21,76 juta per orang per tahun dan meningkat menjadi 23,92 juta per orang per tahun pada 2018.

Angka tersebut dihitung berdasarkan rasio antara PDB dan jumlah tenaga kerja yang terli­bat dalam sektor pertanian. Sebagai upaya me­ningkatkan produktivitas dan nilai tambah te­naga kerja pertanian, pemerintah mendorong petani untuk menerapkan inovasi teknologi pertanian, misalnya penggunaan benih varie­tas unggul baru, perbaikan manajemen pemu­pukan dan pengairan, termasuk mendorong penggunaan alat mesin pertanian modern.

Banjir Produk Impor

Pengamat ekonomi dari Universitas Airlang­ga, Surabaya, Imron Mawardi, mengatakan ke depan, Indonesia akan menghadapi pelema­haan ekonomi global akibat perang dagang an­tara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

Indonesia bakal menjadi target pasar ekspor barang Tiongkok termasuk produk pertanian. Namun, ekspor komoditas Indonesia akan me­nyusut karena berkurangnya permintaan dari Negeri Tirai Bambu akibat perlambatan eko­nomi negara itu.

“Karena pasti produk-produk luar negeri, termasuk pertanian, akan semakin membanjiri Indonesia. Kalau tidak diantisipasi, masyarakat yang sudah berada di garis kemiskinan di desa-desa akan semakin menderita,” papar dia.

Menurut Imron, untuk menjaga daya saing sektor pertanian, selain mengurangi high cost economy seperti di proses perizinan, perlu di­antisipasi pula untuk memangkas biaya modal yang tinggi. “Postur kemiskinan kita lebih ter­sebar di desa-desa yang menjadi sentra perta­nian, maka yang harus dilakukan adalah meng­angkat mereka dengan memberdayakan sektor pertanian,” imbuh dia. YK/SB/WP

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment