Koran Jakarta | October 16 2019
No Comments
Iklim Investasi I 74 Undang-undang Akan Direvisi

Persiapkan Diri agar Tidak Terkena Dampak Resesi

Persiapkan Diri agar Tidak Terkena Dampak Resesi

Foto : ANTARA/APRILLIO AKBAR
BERI SAMBUTAN I Presiden Joko Widodo memberikan sambutan dalam Musyawarah Nasional (Munas) Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) XVI 2019 di Jakarta, Senin (16/9). Dalam kesempatan tersebut Presiden Joko Widodo meminta agar para pengusaha muda rajin belajar dan inovatif, haus teknologi, serta mampu berkompetisi di tingkat global. Presiden berharap HIPMI menjadi tempat lahirnya “New Emerging Multi National Business”.
A   A   A   Pengaturan Font
Pengusaha muda tidak boleh hanya menjadi penonton di negeri sendiri.

 

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan para pakar sudah membuat perkiraan, prediksi atau kalku­lasi tentang potensi resesi eko­nomi pada 1 atau 1,5 tahun mendatang. Presiden minta kepada jajarannya agar segera mempersiapkan diri agar tidak terkena dampak resesi ekono­mi tersebut.

“Sudah sering saya katakan bahwa situasi ekonomi dunia saat ini penuh ketidakpastian. Perang dagang masih terus berjalan, masih menghantui kita. Dan, kita tahu juga seka­rang ini beberapa negara bah­kan sudah menghadapi masuk dalam proses resesi ekonomi,” kata Presiden Jokowi saat memberikan sambutan dalam Peresmian Pembukaan Musyawarah Nasional XVI Himpu­nan Pengusaha Muda Indone­sia (HIPMI), di Jakarta, Senin (16/9).

Presiden berharap, di tengah ketidakpastian setuasi ekonomi dunia itu, jajarannya mampu memanfaatkan pel­uang-peluang yang ada, yang dapat memberikan keuntungan pada Indonesia.

Pada kesempatan itu, Presiden juga menyinggung ten­tang revolusi konsumen di Indonesia. Menurut Presiden, tahun 2020 akan ada 141 juta penduduk yang naik kelas.

“Hati-hati ini. Ada 141 juta penduduk yang naik kelas. Naik kelas menjadi middle class and a fluent consumers. Dibandingkan lima tahun lalu yang jumlahnya hanya 70 juta­an, telah terjadi peningkatan lebih dari 100 persen. Ini besar sekali. Inilah bukti adanya rev­olusi konsumen di Indonesia,” ujar Presiden.

Presiden menjelaskan, selain mengalami kenaikan jumlah, sebaran geografis kon­sumen juga semakin merata. Presiden mengatakan jika lima tahun lalu hanya 25 kabupaten/kota yang memiliki kon­sumen kelas menengah lebih dari 500 ribu, namun tahun de­pan diperkirakan meningkat di 54 kabupaten/kota.

“Artinya, meningkatnya dua kali lebih. Hati-hati dengan peningkatan seperti ini. Im­plikasinya, revolusi konsumen akan membuat kita semakin menarik. Jangan sampai yang mengambil manfaat justru dari negara lain, dari asing. Hati-hati ini,” jelas Presiden.

Presiden menambahkan, lewat revolusi konsumen akan membuat Indonesia semakin atraktif bagi investasi, bisnis global. “Hati-hati. Apalagi dalam situasi perang dagang dan ancaman resesi, magnet konsumen kita akan semakin kuat,” tegasnya.

Hambatan Investasi

Presiden berkomitmen terus menciptakan iklim in­vestasi yang lebih ramah dan kondusif untuk memanfaatkan pasar Indonesia yang sangat besar. Untuk mencapai itu, rencananya pemerintah akan mengajukan sejumlah revisi undang-undang terkait per­izinan dan investasi yang me­mungkinkan keleluasaan bagi Indonesia untuk bergerak lebih jauh dan bersaing dengan negara-negara lain.

“Kemarin sudah kita hitung, ada kurang lebih 74 undang-undang yang langsung akan kita minta, kita revisi, agar ke­cepatan kita dalam bergerak, kecepatan kita dalam bersaing dengan negara-negara lain, bisa kita miliki,” kata Presiden.

Aktif Berinovasi

Presiden menambahkan, pemerintah juga akan mengupayakan agar investasi yang datang ke Indonesia sekaligus dapat menjadikan negara kita sebagai negara yang produktif dan aktif berinovasi melahir­kan kemajuan sehingga dapat memenangkan persaingan dan perebutan pasar global.

“Bagaimana caranya? Menurut saya, investasi global yang masuk tidak boleh hanya datang dengan pabrik dan tenaga kerja saja. Investasi ha­rus menciptakan lebih banyak spillover (kelebihan). Sekali lagi, kata kuncinya adalah spill­over,” tutur Presiden.

Spillover yang dimaksud oleh Presiden yakni mengu­payakan adanya penguasaan terhadap teknologi baru, ran­tai pasokan baru, dan berbagai keuntungan lain melalui in­vestasi yang masuk dan berja­lan di Indonesia. Dengan itu, para pelaku usaha diharapkan akan memiliki nilai tambah dan pemahaman baru.

“Pengusaha muda tidak bo­leh hanya menjadi penonton di negeri sendiri. Pemerintah akan berbuat dengan segala cara agar spillover tadi terwujud. Pemer­intah akan menghapus semua regulasi-regulasi yang mem­buat kita menjadi bangsa kon­sumen,” paparnya. fdl/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment