PM Baru Inggris Mesti Bantu Usaha Kecil Hadapi Brexit | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 6 2019
No Comments
Politik Inggris

PM Baru Inggris Mesti Bantu Usaha Kecil Hadapi Brexit

PM Baru Inggris Mesti Bantu Usaha Kecil Hadapi Brexit

Foto : AFP/TOLGA AKMEN
TOLAK BREXIT - Para pengunjuk rasa pro Uni Eropa turun ke jalan di Kota London, Sabtu (20/7) Inggris untuk menentang pemilihan Boris Johnson sebagai kandidat terkuat menggantikan Perdana Menteri Theresa May.
A   A   A   Pengaturan Font

LONDON – Perdana Men­teri baru Inggris harus beru­paya untuk membantu usaha-usaha kecil mempersiapkan diri untuk skenario keluarnya negara itu dari Uni Eropa tan­pa kesepakatan apa pun, atau yang sering disebut dengan no-deal Brexit.

Menteri Inggris untuk Brexit, Stephen Barclay, mengatakan persiapan di sektor tersebut masih kurang matang. “Ada perbedaan dalam persia­pan antara perusahaan-perusahaan besar dengan usaha-usaha kecil dan menengah,” katanya kepada Sky News,Minggu (21/7).

“Banyak pelaku usaha ke­cil mendengar anggota parle­men mengatakan bahwa Brexit tanpa kesepakatan tak akan terjadi, sehingga mereka be­rasumsi tak perlu melakukan persiapan apa pun,” katanya.

Seperti diketahui, pada Se­lasa (23/7) akan diumumkan ketua baru Partai Konservatif menggantikan Theresa May. Sebanyak 160.000 surat suara dari anggota partai akar rum­put diperkirakan akan mem­buat Boris Johnson, 55 tahun, sebagai pemimpin baru.

Sebab, surat suara yang tersisa harus dikirimkan sebe­lum batas waktu Senin (22/7) pada pukul 5.00 sore waktu setempat. Hal itu membuat pesaing Johnson, yakni Menteri Luar Negeri Inggris, Jeremy Hunt, hanya memiliki peluang kemenangan sekitar satu banding 15.

Boris Johnson, mantan Wali Kota London, merupak­an kandidat unggulan untuk mendapatkan kursi kepe­mimpinan Partai Konservatif dan otomatis menggantikan posisi Perdana Menteri Theresa May, pada hari Rabu (24/7).

Johnson berjanji bahwa ke­luarnya Inggris dari keanggotaan Uni Eropa (Brexit) harus terlaksana pada batas waktu 31 Oktober mendatang, bah­kan dengan skenario keluar tanpa kesepakatan dalam menghadapi oposisi sengit di parlemen.

Unjuk Rasa

Sementara itu, para pengunjuk rasa pro-Uni Eropa pada Sabtu (20/7) turun ke jalan di Kota London guna menentang pemilihan Boris Johnson se­bagai perdana menteri baru. Aksi dengan tajuk March for Change itu digelar oleh koalisi kelompok-kelompok penekan pro-UE dan pro-referendum kedua.

Unjuk rasa secara jelas meminta pemerintah Inggris membatalkan Article 50 dan mempertahankan keanggot­aan Inggris di Uni Eropa. Un­juk rasa itu bertolak belakang dengan aksi-aksi sebelumnya, yang menuntut dilakukannya referendum kedua tentang apakah menerima atau meno­lak kesepakatan yang dibuat PM Theresa May dengan Uni Eropa, mencabut Article 50 atau hengkang tanpa perjan­jian apa pun.

Office for Budget Respon­sibility mengatakan bahwa Inggris kemungkinan sudah memasuki resesi, dan Brexit tanpa kesepakatan dengan Uni Eropa berarti akan me­nambah beban defisit ang­garan lebih dari dua kali lipat pada tahun 2020, dengan tam­bahan utang negara 30 miliar pundsterling.

Aksi unjuk rasa itu dime­riahkan dengan kehadiran boneka balon yang diumpa­makan sebagai Boris Johnson anak-anak.

Mirip dengan boneka Donald Trump yang selalu di­usung pengunjuk rasa sebagai sindiran keras terhadap Presiden Amerika Serikat yang pemarah dan kekanak-kanakan itu ketika berkunjung ke Ing­gris. Ant/AFP/ang/AR-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment