Koran Jakarta | October 16 2019
No Comments
Forum Titik Temu

Presiden: Kemajemukan Tak Terpisahkan dari Kemajuan Ekonomi

Presiden: Kemajemukan Tak Terpisahkan dari Kemajuan Ekonomi

Foto : ANTARA/WAHYU PUTRO A
SAMBUTAN PRESIDEN I Presiden Joko Widodo memberikan sambutan saat membuka Forum Titik Temu di Jakarta, Rabu (18/9).
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Presiden Joko Widodo mengatakan, ke depan setiap negara harus mampu mengelola kemajemu­kan masyarakat agar dapat menjadi­kan kesuksesan bagi negara tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Pre­siden Jokowi saat membuka Forum Titik Temu Kerja Sama Multikultural untuk Persatuan dan Keadilan, di Ja­karta, Rabu (18/9).

“Masyarakat kita dan juga dunia ke depan akan semakin majemuk, baik suku, etnis, adat, budaya, serta agama. Kemajemukan bukan hanya kemajuan zaman yang dapat kita hindari. Karena, kemajemukan yang semakin matang dan dewasa menjadi satu bagian yang tak terpisahkan dari kemajuan ekonomi,” kata Presiden.

Presiden lalu mencontohkan cara mengundang para wisatawan mau­pun investor dari luar negeri dengan cara yang terbuka. “Ke depan akan terjadi seperti itu, beda etnis, budaya, dan agama. Jadi, keberhasilan sebuah negara, sebuah daerah dan keberha­silan sebuah masyarakat akan diten­tukan derajat penerimaannya kepada kemajemukan. Semakin masyara­kat menerima kemajemukan, akan semakin diminati, dikunjungi, dan mendongkrak kesejahteraan di dae­rah atau negara itu,” ucap Presiden.

Karena itu, Presiden bersyukur In­donesia diberikan kemajemukan dari awal berdirinya, dan dari kemajemu­kan tersebut dirumuskan dalam sem­boyan Bhinneka Tunggal Ika.

Terkait kemajemukan, Presiden lalu menyinggung Uni Emirat Arab (UEA) yang 40 tahun lalu masih ter­tinggal. Tetapi, keberhasilannya da­lam mengelola kemajemukan akhir­nya maju, bahkan kini pendapatan per kapitanya 43 ribu dollar AS.

“Apa kuncinya? Apakah sumber daya alam? Saya yakin bukan yang utama, dan hal SDA Indonesia lebih kaya dibanding UEA. Mereka pu­nya minyak kita juga punya. Bahkan kita punya hutan dan kayu, tambang mineral batu bara, lahan subur, kita punya, dan menurut saya, salah satu kunci utamanya keterbukaan dan toleransi,” ungkap Presiden.

Bahkan, lanjut Presiden, pada ta­hun ini, UEA menggelar kegiatan toleransi dengan mengundang talen­ta top dunia, CEO, dan tenaga ahli. Ti­dak hanya itu, UEA juga mengundang perguruan puluhan tinggi ternama di dunia, hingga rektor tenaga asing.

“Di sini (Indonesia), baru ide gagasan ada 4.700 akademi politeknik, universitas, dan perguruan tinggi. Saya (baru) ngomong-ngomong dikit, bagaimana kalau tiga universitas kita atau politeknik atau akademi dengan rektor asing, langsung Presiden Jokowi dikatakan antek asing,” ujarnya.

Sebelumnya, istri Presiden ke-4 RI, Sinta Nuriyah Abdulrahman Wa­hid, mengatakan keberagaman dan kemajemukan harus diterima semua warga Indonesia.

“Indonesia adalah danau per­adaban, tempat yang bisa menam­pung titik temu,” katanya.

Menurutnya, Indonesia harus pu­nya jiwa yang kokoh. “Diperlukan pendekatan khusus, penerapan keke­luargaan agar berjalan efektif,” ucap Ibu Sinta. fdl/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment