Koran Jakarta | June 27 2019
No Comments
Persatuan Nasional - Prabowo Minta Pendukungnya Tidak Berbuat Aksi Anarkis

Presiden Jokowi Pastikan TNI-Polri Akan Tindak Tegas Perusuh

Presiden Jokowi Pastikan TNI-Polri Akan Tindak Tegas Perusuh

Foto : ANTARA/AKBAR NUGROHO GUMAY
BERI KETERANGAN - Presiden Joko Widodo menyampaikan keterangan tentang kondisi keamanan nasional di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (22/5). Presiden mengatakan tidak akan memberi toleransi kepada perusuh yang mengganggu keamanan, proses demokrasi, dan persatuan negara.
A   A   A   Pengaturan Font

>> Ada sebuah upaya sistematis dari kelompok tertentu yang mendompleng Aksi 22 Mei sehingga berujung kerusakan.

>> Kelompok yang tidak puas dengan hasil pemilu seharusnya menempuh jalur konstitusi sehingga kondusif.

JAKARTA – Pemerintah mene­gaskan tidak akan memberikan tole­ransi bagi para pelaku yang sengaja mengganggu keamanan proses de­mokrasi sehingga bisa menganggu persatuan negara. Untuk itu, Tenta­ra Nasional Indonesia (TNI) dan Ke­polisian Republik Indonesia (Polri) akan menindak tegas para perusuh sesuai aturan hukum berlaku.

Hal itu disampaikan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Ja­karta, Rabu (22/5), terkait adanya ke­rusuhan “Aksi 22 Mei” yang berujung merusak fasilitas publik dan meng­ganggu ketertiban umum. Keru­suhan terjadi setelah pengunjuk rasa di depan kantor Badan Pengawasan Pemilu (Bawaslu) membubarkan diri pada Selasa (21/5) malam. Pe­rusuh tampak melempari aparat de­ngan batu dan bom Molotov, bahkan merusak dan membakar sejumlah kendaraan aparat.

“Kita tidak akan memberikan ru­ang untuk perusuh-perusuh yang akan merusak Negara Kesatuan Repu­blik Indonesia. Tidak ada pilihan bagi TNI dan Polri untuk menindak tegas sesuai dengan aturan hukum yang berlaku,” kata Presiden Jokowi.

Hadir mendampingi Presiden saat memberikan keterangan, Wakil Pre­siden Jusuf Kalla, Menko Polhukam Wiranto, Mensesneg Pratikno, Ke­pala Staf Kepresidenan (KSP) Jende­ral (Purn) Moeldoko, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, dan Kepala BIN Jenderal (Purn) Budi Gunawan.

Presiden menegaskan bahwa pe­merintah akan terus menjaga stabili­tas politik dan keamanan di Indone­sia. “Pemilu adalah satu event dari perjalanan negara Indonesia yang masih panjang. Sebagai Kepala Ne­gara dan Kepala Pemerintahan, saya mempunyai kewajiban untuk men­jaga stabilitas politik dan stabilitas keamanan,” tegasnya.

Karena itu, Presiden meminta ke­pada kelompok yang tidak puas de­ngan hasil pemilu menempuh jalur konstitusi. “Sudah disediakan untuk konstitusi kita bahwa segala perseli­sihan sengketa diselesaikan melalui Mahkamah Konstitusi (MK). Dan, saya menghargai Pak Prabowo-Sandi yang telah membawa sengketa pil­pres kemarin ke MK,” ucap Presiden.

Presiden meyakini bahwa hakim-hakim yang mengadili sengketa di MK akan memutuskan sesuai dengan fak­ta-fakta yang ada. Dalam kesempatan itu, Presiden ikut mengingatkan ke­pada semua pihak agar menghormati datangnya bulan suci Ramadan. Se­lanjutnya, Presiden mengajak kepada semuanya untuk merajut kembali persatuan, persaudaraan, dan keru­kunan. “Karena, Indonesia adalah ru­mah kita bersama,” tutup Presiden.

Saat ditanya apakah pertemuan dengan calon presiden Prabowo Subi­anto akan dipercepat, Presiden Jokowi menjawab bahwa dirinya terus meng­usahakan untuk bertemu. “Kan sudah saya sampaikan, saya sudah berinisi­atif sejak awal setelah coblosan. Sudah mengutus, tapi memang kelihatannya belum ketemu,” tutupnya.

Cendikiawan muslim Ayzumardi Azra mendukung rencana pertemuan capres Jokowi dan capres Prabowo. “Hal ini sebagai bukti bahwa kedua­nya tidak ada masalah dan mendu­kung proses konstitusi,” ujarnya.

Sementara itu, calon presiden no­mor urut 02, Prabowo Subianto, me­minta semua pihak menahan diri dari aksi-aksi anarkistis. Dia juga mengim­bau pendukungnya agar tidak terlibat kekerasan fisik seperti yang terjadi di kawasan Tanah Abang dan Petam­buran pada Rabu dini hari.

“Saya juga tegaskan kepada semua yang masih mau mendengarkan saya. Sekali lagi saya tegaskan, hindari ke­kerasan fisik,” katanya di Jalan Ker­tanegara IV, Jakarta Selatan, Rabu.

Upaya Sistematis

Di tempat terpisah, Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, mengata­kan ada sebuah upaya sistematis dari kelompok tertentu yang ikut men­dompleng pada Aksi 22 Mei sehing­ga berujung kerusakan. “Saya ingin memberikan pemahaman kepada masyarakat Indonesia untuk tidak melibatkan diri dalam kerumunan massa dan supaya hindari itu. Karena memang ada upaya sistematis untuk membawa suasana ini menjadi sua­sana yang tidak baik,” kata Moeldoko.

Moeldoko menilai bahwa peris­tiwa politik sesungguhnya sudah berakhir karena kelompok 02 telah melakukan upaya hukum ke Mahka­mah Konstitusi. “Sebetulnya dengan pendekatam politik itu sudah selesai, tetapi sekarang masih berlangsung ada upaya untuk membawa suasana yang keruh. Ini jelas-jelas upaya un­tuk melakukan kerusuhan,” ucapnya.

Sementara itu, Menteri Koordi­nator Bidang Politik Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Wi­ranto, menyatakan pemerintah te­lah mengantongi dalang kerusuhan yang terjadi di Jakarta dengan me­manfaatkan Aksi 22 Mei. “Pemerin­tah memiliki intelijen. Mereka terus mengamati perkembangan mulai dari awal hingga pemilu saat ini. Kalau saudara-saudara mengamati berbagai kasus yang terjadi, kan ada satu keterkaitan antara satu kasus dengan kasus yang lain,” katanya. Ant/fdl/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment