Koran Jakarta | October 16 2019
No Comments
Ancaman Krisis I 5 Raksasa Ekonomi Dunia Berpotensi Kena Resesi

Presiden Minta Mal Prioritaskan Produk Lokal

Presiden Minta Mal Prioritaskan Produk Lokal

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Sudah saatnya produk lokal menguasai pasar dalam negeri dan membawa brand Indonesia ke pasar mancanegara.

 

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta agar pengelola mal membuka ruang seluas-luasnya bagi berbagai produk dalam ne­geri, sehingga masyarakat terbiasa mencintai produk lokal.

Presiden juga mengingatkan, pasar Indonesia yang sangat besar ini jangan sampai dikuasai pro­duk mancanegara. Apalagi, saat ini neraca perda­gangan masih defisit dan defisit transaksi berja­lan Indonesia cukup besar. “Sekarang musimnya pasar terbuka, tapi ini perang dagang mesti ada strategi mal-mal,” kata Presiden Jokowi saat membuka Hari Belanja Diskon Indonesia 2019, di Senayan City Mall, Jakarta, Kamis (15/8).

Oleh karena itu, Presiden meminta Him­punan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) selaku pengelola mal untuk me­nyediakan tempat strategis bagi produk dalam negeri. “Tu­gas Anda yang pertama tolong kerja sama dengan pemilik mal, carikan tempat-tempat yang strategis untuk brand kita,” ujar Jokowi.

Kedua, imbuh dia, bagai­mana produk dengan kemasan yang baik bisa diekspor. “Nanti pemerintah akan bantu me­nyiapkan anggaran pemasaran yang bisa di-cover pemerintah. Misalnya, cari mal terstrategis di Singapura, Vietnam. Kuasai mal separuh isinya dengan ba­rang kita. Jadi, kita sudah saat­nya menguasai pasar dalam negeri dan memba­wa brand lokal kita ke luar negeri,” papar Jokowi.

Terkait dengan kinerja perdagangan, Badan Pusat Statistik (BPS), Kamis, melaporkan defi­sit neraca perdagangan Indonesia per Juli 2019 mencapai 60 juta dollar AS. Defisit itu disebab­kan nilai ekspor yang sebesar 15,45 miliar dol­lar AS, lebih rendah dibandingkan dengan im­por yang senilai 15,51 miliar dollar AS.

Defisit perdagangan itu terutama berasal dari neraca migas yang defisit 142,4 juta dollar AS. Secara kumulatif Januari–Juli 2019, neraca perdagangan masih mencatatkan defisit 1,90 miliar dollar AS.

Kontraksi Pertumbuhan

Sebelumnya, peneliti Indef, Aryo DP Irham­na, mengingatkan agar Indonesia mewaspadai potensi resesi global yang dipicu oleh perang da­gang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Menurut dia, kemungkinan krisis akan menjalar melalui jalur perdagangan yang akan berdam­pak pada depresiasi rupiah. Oleh karena itu, kinerja perdagangan harus benar-benar men­jadi perhatian, yakni dengan serius mengurangi impor barang konsumsi, terutama barang yang bisa diproduksi di dalam negeri.

Sementara itu, CNN, Kamis, melaporkan lima negara raksasa ekonomi di dunia berisiko mengalami resesi ekonomi. Kelima negara itu adalah Jerman, Inggris, Italia, Brasil, dan Mek­siko. Resesi ekonomi biasanya didefinisikan se­bagai kontraksi pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada dua kuartal berturut-turut.

Kelima negara tersebut ter­masuk dalam kelompok G20. Potensi resesi ekonomi ke­mungkinan akan menggeser pe­ringkat kelima negara ke posisi lebih rendah. Di Asia, Singapura dan Hong Kong juga mengalami hantaman dari sisi domestik. Meski kedua negara memiliki kapasitas ekonomi lebih kecil dari kelima negara di atas, na­mun memiliki fungsi krusial se­bagai pasar keuangan dan per­dagangan global.

Dari pasar keuangan, Direktur Utama PT Ga­ruda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, mengemu­kakan risk appetite investor sedang sangat ren­dah, aset-aset berisiko di negara berkembang akan kesulitan menjaring peminat. Penyebab­nya, persepsi risiko resesi yang semakin tebal.

Sinyal ke arah resesi terlihat pada perda­gangan Rabu (13/8), ketika terjadi inversi imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor dua dan sepuluh tahun, atau yield surat utang yang jangka pendek lebih tinggi ketimbang jangka panjang. Hal seperti ini kali terakhir terjadi pada Juni 2007, beberapa bulan sebelum meletusnya krisis keuangan global. fdl/YK/SB/Ant/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment