Presiden Trump Bantah Batalkan Tarif Tiongkok | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 11 2019
No Comments
Perang Dagang I Pasar Saham AS Merosot

Presiden Trump Bantah Batalkan Tarif Tiongkok

Presiden Trump Bantah Batalkan Tarif Tiongkok

Foto : AFP/ NICHOLAS KAMM
A   A   A   Pengaturan Font
Jika perundingan perdagangan dengan Tiongkok selesai dibuat, kesepakatan itu tidak akan ditandatangani di luar negeri.

 

NEW YORK – Pernyataan Tiongkok yang mengatakan Amerika Serikat setuju mem­batalkan seluruh tarif perang dagang, kini dibantah Presiden AS, Donald Trump. Bahkan, Trump menegaskan klaim Tiongkok itu telah membuat kemunduran pada kesepaka­tan damai perang dagang.

“Tiongkok ingin mendapat­kan sedikit kemunduran, bukan kemunduran total, karena mereka tahu saya tidak akan melakukannya. Saya belum menyetujui apa pun,” ujarnya pada wartawan di Gedung Pu­tih, Washington, Sabtu (9/11).

Pernyataan Trump yang dilemparkan pada akhir pe­kan itu sekaligus menepis optimisme Kementerian Perdagangan Tiongkok yang sebe­lumnya menyebut ada peluang kesepakatan dagang.

Pernyataan Trump itu juga menimbulkan kekhawatiran baru soal sampai kapan dua ekonomi terbesar dunia itu akan membiarkan perang da­gang yang telah berlangsung 16 bulan, yang telah mengganggu pertumbuhan global.

Sebelumnya, para peja­bat kedua negara pada Kamis (7/11), mengatakan Tiong­kok dan AS telah sepakat un­tuk menurunkan sanksi tarif yang saling diterapkan dalam kesepakatan perdagangan “fase satu”. Namun, wacana itu terhalang oleh penolakan keras dari beberapa orang dalam pemerintahan Trump. Perkembangan itu ditunjuk­kan oleh pernyataan Trump yang menggambarkan dirinya sebagai “Tariff Man”, dengan mengatakan bahwa ia belum setuju untuk mengurangi tarif yang telah berlaku.

Menurut Trump, Tiongkok ingin mencapai hasil kesepakatan lebih dari yang dia tawar­kan, dan tarif AS telah meng­hasilkan keuntungan miliaran dollar bagi perekonomian AS. “Sekarang saya sangat senang. Kami menerima miliaran dol­lar,” kata Trump.

Setelah pernyataan Trump beredar, pasar saham AS di­laporkan merosot dan dollar melemah terhadap yen, meng­hentikan reli yang dipicu oleh optimisme kesepakatan perda­gangan sebelumnya, yang ber­hasil membawa indeks utama mencapai rekor.

Ditandatangani di Iowa

Trump juga mengatakan jika perundingan perdagangan dengan Tiongkok selesai dibuat, kesepakatan itu tidak akan ditandatangani di luar negeri.

“Dengan asumsi kita akan mendapatkannya, itu bisa saja di Iowa atau negara pertanian, atau tempat seperti itu. Itu akan ada di negara kita,” katanya.

Negara bagian pertanian Iowa telah mengalami pukulan oleh tarif balasan Tiongkok atas kedelai, daging babi, dan produk pertanian AS lain­nya, tapi memiliki sejarah hubungan dengan Presiden Xi Jinping. Editor surat kabar Global Times yang dikelola pemerintah Tiongkok, Hu Xijin, menulis bahwa pasar tidak mengharapkan pernyataan Trump itu.

“Itu bukan penolakan datar. Yang pasti adalah bahwa jika tidak ada kemunduran tarif, ti­dak akan ada kesepakatan fase satu,” ujarnya lewat Twitter

Para ahli di dalam dan di luar pemerintah AS mem­peringatkan masih terbuka peluang bahwa pakta perda­gangan fase satu akan gagal. Para pejabat AS mengatakan banyak pekerjaan yang masih harus dilakukan ketika Trump mengumumkan garis besar kesepakatan sementara pada bulan lalu, dan sejak itu Beijing mendorong kembali permin­taan untuk membeli produk pertanian utama AS, di antara isu-isu lainnya.

Mei lalu, Tiongkok mem­batalkan kesepakatan perda­gangan sebelumnya yang menurut para pejabat AS telah selesai 90 persen. Jika kesepakatan sementara selesai dan ditandatangani, diharap­kan mencakup janji AS untuk membatalkan tarif baru yang dijadwalkan berlaku untuk produk impor Tiongkok berni­lai sekitar 156 miliar dollar AS pada 15 Desember.

Namun, Tiongkok juga mengajukan pembatalan tarif AS yang diberlakukan se­jak Januari 2018. Juru bicara Kementerian Perdagangan Tiongkok, Gao Feng, pada Ka­mis, mengatakan kedua negara harus secara bersamaan mem­batalkan beberapa tarif untuk mencapai pakta fase satu. AFP/SB/P-4

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment