Puskesmas Akan Layani Gangguan Kesehatan Jiwa | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 11 2019
No Comments
Pelayanan Kesehatan | Panduan Layanan Kesehatan Jiwa Sedang Disusun

Puskesmas Akan Layani Gangguan Kesehatan Jiwa

Puskesmas Akan Layani Gangguan Kesehatan Jiwa

Foto : ISTIMEWA
Anung Sugihantono
A   A   A   Pengaturan Font
Hadirnya layanan kesehatan jiwa di puskesmas diharapkan tidak hanya untuk penanganan gejala masalah kesehatan jiwa, tetapi juga mencakup pemahaman masyarakat.

 

JAKARTA – Kementerian Kes­ehatan mengupayakan pengem­bangan layanan kesehatan jiwa di layanan kesehatan primer sep­erti puskesmas. Hal ini dilakukan untuk mendekatkan layanan ke­pada masyarakat, mengurangi stigma terhadap pasien dengan gangguan kesehatan jiwa dan menata sistem rujukan.

“Peningkatan pelayanan kes­ehatan yang diharapkan nantin­ya mencakup antara lain kemu­dahan akses, keterjangkauan, efektif, efisien serta memperha­tikan hak-hak asasi manusia,” kata Direktur Jenderal Pencega­han dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Anung Sugihantono, di Jakarta, Selasa (8/10).

Dengan dihadirkannya lay­anan kesehatan jiwa di seluruh puskesmas, diharapkan layanan itu tidak hanya untuk penanga­nan gejala masalah kesehatan jiwa, tetapi juga mencakup pe­mahaman masyarakat seki­tarnya yang akan membantu peningkatan kualitas hidup pasien penderita.

Dalam kesempatan itu, An­ung juga mengatakan bahwa isu kesehatan jiwa masih kurang menjadi perhatian di daerah-daerah meski terjadi tren pen­ingkatan akan permasalahan tersebut.

“Kalau saya boleh jujur, ang­garan di kabupaten dan kota untuk kesehatan jiwa itu ham­pir tidak ada karena strukturnya tidak ada meski kita punya UU Kesehatan Jiwa,” katanya.

Menurut dia, selain upaya rehabilitasi diperlukan juga aksi preventif untuk melakukan de­teksi dini masalah kesehatan jiwa. Upaya daerah biasanya menggunakan payung besar Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM).

Tim lintas sektor itu, kata dia, biasanya dipimpin dari sekre­tariat daerah (Setda), tapi ang­garannya masih dalam kategori umum, belum spesifik untuk upaya preventif dan promotif masalah kesehatan jiwa. “Pa­dahal permasalahan kesehatan jiwa seharusnya sudah dilaku­kan dari tingkat dasar,” katanya.

Ia mengatakan terjadi tren kenaikan masalah kejiwaan. Prevelalensi gangguan mental emosional pada penduduk di atas 15 tahun mencapai 9,8 per­sen, atau naik dari 6 persen dis­banding tahun 2013.

Susun Panduan

Direktur Pencegahan dan Pe­ngendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Ke­sehatan, Fidiansjah, mengatakan pemerintah Indonesia menjadi koordinator negara-negara Ase­an dalam menyusun Panduan Integrasi Pelayanan Kesehatan Jiwa pada Layanan Kesehatan tingkat Primer dan Sekunder.

Ia menyebutkan panduan di­maksudkan untuk mengembang­kan dan mempromosikan inte­grasi pelayanan kesehatan jiwa ke dalam pelayanan kesehatan, khususnya pelayanan kesehatan dasar bagi negara anggota Asean.

Hal ini penting dilakukan mengingat pelayanan kesehatan jiwa sebagian besar diberikan di pelayanan kesehatan sekunder dan tersier, sehingga upaya de­teksi, penilaian, dan manajemen pelayanan masalah kesehatan jiwa tidak dekat dengan ma­syarakat, utamanya di daerah terpencil dan perdesaan.

Panduan selanjutnya akan digunakan sebagai rujukan negara anggota ASEAN dalam mengembangkan integrasi lay­anan kesehatan jiwa pada fasili­tas pelayanan kesehatan tingkat primer dan sekunder sesuai ke­butuhannya.

Negara-negara menyepakati kerja sama Asean dalam pen­anganan kesehatan jiwa untuk digiatkan dengan semangat soli­daritas dan saling membantu. Beberapa negara anggota telah maju dalam penanganan masa­lah kesehatan jiwa, namun be­berapa negara masih dalam ta­hap mengembangkan kebijakan dan programnya.

Oleh karena itu, kolaborasi Asean harus terus ditingkatkan guna memastikan finalisasi pe­doman dan mengoptimalkan serta memperkuat kapasitas dan manajemen sistem pelayanan kesehatan jiwa di Asia Tenggara.

Kementerian Kesehatan send­iri, menargetkan mengurangi jumlah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang ditelantarkan. ruf/Ant/E-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment