Koran Jakarta | August 19 2019
No Comments
Penerimaan Mahasiswa Baru | LTMPT Jamin Tidak Ada Kebocoran Soal

Ratusan Siswa Batal Ikut UTBK

Ratusan Siswa Batal Ikut UTBK

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Siswa yang tak bisa ikut UTBK pada gelombang pertama karena sakit, dapat ikut tes pada gelombang berikutnya.

 

MALANG – Sebanyak 299 siswa pendaftar Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) sesi pertama gelombang per­tama yang digelar di Univer­sitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, Sabtu (13/4), absen karena berbagai alasan. Alasan itu di antaranya sakit dan sudah diterima melalui jalur seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri atau SNMPTN.

Rektor Universitas Brawi­jaya (UB) Malang, Prof Nuhfil Hanani, ketika ditemui seusai memantau pelaksanaan UTBK di sejumlah lokasi di kawasan UB mengatakan, peserta UTBK yang sakit pada gelombang pertama ini bisa mengikutinya pada gelombang berikutnya.

Sementara yang sudah di­terima melalui jalur SNMPTN memang tidak dibolehkan mengikuti UTBK. Seperti dike­tahui bahwa UTBK merupakan syarat wajib bagi siswa yang akan mengikuti Seleksi Ber­sama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Prof Nuhfil mengatakan jumlah peserta UTBK pada ge­lombang pertama secara ke­seluruhan mencapai 17.291 orang dengan rincian Saintek 9.493 dan Soshum 7.798, serta pendaftar bidikmisi menca­pai 3.360 peserta. Sedangkan pada gelombang kedua jum­lah peserta yang mendaftar mencapai 17.923 orang dengan rincian Saintek 9.619, Soshum 8.304, bidikmisi 4.775 peserta, dan difabel hanya satu orang.

Materi UTBK terdiri dua ke­lompok, yakni pertama Tes Po­tensi Skolastik (TPS) yang beri­si materi penalaran umum dan kuantitatif. Kedua, materi Tes Kompetensi Akademik (TKA) yang meliputi materi akademik Saintek dan Soshum.

Nilai tes UTBK akan di­umumkan pada peserta paling lambat 10 hari setelah ujian. Selanjutnya, nilai UTBK yang diterima dapat dipakai untuk mendaftar Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Ne­geri (SBMPTN) mulai 10 Mei hingga 24 Juni 2019.

Sementara itu, hari pertama pelaksanaan UTBK di Univeri­stas Airlangga (Unair), Suraba­ya, sempat mengalami ganggu­an. Ketua UTBK Unair, Junaidi Khotib, mengatakan, dari 38 ruang yang tersedia, ada em­pat ruang yang mengalami masalah teknis pada jaringan internet.

“Kendalanya pada sistem jaringan konektivitas yang naik turun, tapi alhamdulillah se­mua itu bisa cepat kami atasi sebelum ujian berlangung. Dari kendala itu, ujian sempat tertunda, bukan terhenti, jadi peserta ujian belum mulai me­laksanakan UTBK,” ungkapnya.

Secara terpisah, Wakil Rek­tor Bidang Pendidikan, Peng­ajaran, dan Kemahasiswaan Universitas Gadjah Mada (UGM), Djagal Wiseso Marse­no, mengatakan sebanyak 19.047 peserta mengikuti UTBK gelombang pertama di Kampus UGM, sedangkan pada gelom­bang kedua mencapai 16.848 peserta.

Djagal menjelaskan UGM menyiapkan 16 lokasi yang tersebar di seluruh fakuktas di UGM untuk pelaksanaan UTBK dengan total sebanyak 53 ruangan beserta 1.720 kom­puter.

Tak Ada Kebocoran

Sementara itu, Ketua Lem­baga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT), Ravik Karsidi, menjamin tidak ada kebocor­an soal dalam UTBK kali ini. Dengan moda ujian berbasis komputer, kerahasiaan soal akan lebih terjaga.

“Inilah salah satu kelebih­an UTBK. kalau dulu model dengan berbasis kertas dan cetak itu mudah sekali terjadi kebocoran soal,” katanya. Ra­vik menambahkan, soal UTBK sudah diatur sedemikian rupa sehingga setiap peserta akan memiliki soal berbeda. Hal ter­sebut dilakukan agar tidak ter­jadi praktik kecurangan seperti mencontek dalam pelaksanaan UTBK ini.

Dalam kesempatan terpi­sah, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Men­ristekdikti), Mohamad Nasir, merencanakan pelaksanaan UTBK 2020 lebih awal. Hal ter­sebut akan direalisasikan jika pelaksanaan UTBK tahun 2019 ini berjalan baik dan lancar.

“Mudah-mudahan kalau bisa berjalan dengan baik, nanti tahun depan saya akan ajukan pelaksanaannya Janu­ari setelah adanya semesteran anak SMA. Asal tahun ini kita bisa laksanakan dengan baik,” jelas Nasir.

Pencanangan UTBK lebih awal, lanjut Nasir, agar siswa-siswa SMA setelah lulus tidak berkuliah ke luar negeri. Hal tersebut terjadi karena proses penerimaan universitas di luar negeri dilakukan lebih dulu di­banding di Indonesia. SB/ruf/YK/E-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment