Robohnya Sekolah-sekolah | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 11 2019
No Comments

Robohnya Sekolah-sekolah

Robohnya Sekolah-sekolah

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Dunia pendidikan berduka. Padahal Pemerintahan Presiden Joko Widodo tengah berharap banyak pada Mendikbud, Nadiem Makarim. Dia digadang-gadang akan membawa perubahan besar, khususnya melakukan terobosan dalam proses belajar mengajar dengan mengadopsi teknologi digital yang memang sangat dikuasainya. Sebelum jauh melangkah ke depan dengan digitalisasi sekolah, persoalan dasar pendidikan masih banyak yang harus dibenahi. Salah satu yang mendesak adalah sarana dan prasarana gedung yang banyak sekali sudah tidak memadai sebagai ruang belajar dan tempat nyaman menuntut ilmu.


Musibah ambruknya bangunan Sekolah Dasar (SD) Gentong di Jalan KH Sepuh, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, Jawa Timur, saat proses belajar mengajar, Selasa (5/11/), seolah mengingatkan semua pihak yang terkait. Ambruknya gedung sekolah itu ibarat gunung es yang menunggu kehancuran sejumlah sekolah yang memang sudah tidak layak lagi dari sisi kualitas bangunan.


Musibah yang menewaskan sedikitnya tiga orang, yakni dua siswa dan seorang guru, serta puluhan lainnya terluka, pasti menimbulkan kedukaan yang mendalam bagi keluarga. Ketika itu, seluruh siswa didampingi guru sedang melaksanakan proses belajar mengajar, tiba-tiba atap bangunan sekolah roboh dan menimpa mereka. Tercatat ada empat ruang kelas yang ambruk, terdiri atas ruang kelas 2A, 2B, 5A dan 5B.


Sebelum ambruknya atap bangunan SD di Kota Pasuruan itu, sebulan lalu, tepatnya pada 1 Oktober 2019, dua ruang kelas SMPN 2 Plumbon, Kabupaten Cirebon, ambruk. Peristiwa itu menyebabkan puluhan siswa dan dua guru terluka akibat tertimpa reruntuhan material bangunan, terutama kayu. Ruang kelas ambruk secara tiba-tiba sehingga membuat siswa tak sempat menyelamatkan diri.


Sementara itu, sudah satu pekan, 120 siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mathlahul Anwar yang berlokasi di Kampung Ciangsana, Desa Tapos, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, belajar beratapkan langit. Jika hujan turun, mereka berlarian mencari tempat aman untuk berteduh. Kebijakan belajar di alam terbuka itu terpaksa diberlakukan manajemen sekolah lantaran kondisi kelas berbahaya dipakai untuk kegiatan belajar mengajar (KBM). Demi keselamatan dan KBM tetap berjalan, sekolah pun pindah ke halaman sekolah.


Beberapa contoh bangunan sekolah yang ambruk dan potensi musibah yang dapat menyusul, hanyalah sebagaian kecil dari ratusan ribu bangunan sekolah di seluruh Tanah Air mulai tingkat SD hingga SMA perlu diperhatian dan segera direnovasi jika kondisinya maskin parah. Sebab, taruhannya nyawa guru dan siswa yang seharusnya dapat menikmati pendidikan yang aman dan nyaman.


Bila menggali lagi data tentang roboh atau ambruknya bangunan sekolah di seluruh Tanah Air, pasti akan muncul beragam informasi mengenainya. Sayang kita sedikit sekali mendapatkan informasi cara penanganan menyeluruh. Ini juga jadi pekerjaan rumah yang tidak ringan bagi jajaran Kemendikbud di bawah Nadiem Makarim.


Dengan membaca berita musibah robohnya atas SD Gentong di Pasuruan tersebut mencerminkan begitu tidak amannya anak-anak dalam menjalani proses belajar mengajar. Belum lagi soal substansi mutu pendidikan harus lebih ditingkatkan di era persaingan global saat ini. Memang harus diakui, luas wilayah dan penduduk sangat besar, juga disparitas mutu pendidikan, belum lagi kondisi sarana dan prasarana, termasuk perpustakaan dan laboratorium masih sangat minim di ratusan ribu sekolah.


Karena itu Mendibud Nadiem Makarim sejak awal sekali diingatkan oleh peristiwa robohnya bangunan SD di Pasuruan ini. Harus ada konsentrasi untuk segera memperbaiki dan melengkapi sarana dan prasarana pendidikan di seluruh Tanah Air. Hal itu bisa dilakukan seiring dengan berbagai terobosan yang akan dilakukan, sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo.

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment