Koran Jakarta | September 19 2019
No Comments

Roh Kudus sebagai Karunia bagi Manusia

Roh Kudus sebagai Karunia bagi Manusia
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Memahami Hikmat Roh Kudus dan Karunia-karunia-Nya

Penulis : Dr Andreas B Atawolo, OFM

Penerbit : Obor

Cetakan : Februari 2019

ISBN : 978–979- 565-840-5

Seperti prinsip sistematika teologi pada umumnya, teologi Roh Ku­dus harus dan hanya dimengerti dalam terang teologi Trinitas. Dasar teologis pemaknaan Roh Kudus se­bagai pangkal karunia-karunia ilahi terletak pada keyakinan bahwa Allah Trinitas adalah persekutuan (com­munio) kasih sempurna.

Menurut buku ini, sebuah kasih sempurna hanya dapat diterima secara pantas oleh pribadi lain yang bersifat ilahi pula. Sebab, mengalirkan kasih sempurna kepada wujud yang terbatas seperti ciptaan bertentangan dengan hakikat kesempurnaan. Pri­badi penerima itu ialah Allah Putra: Ia lahir dari Bapa karena itu merupakan model sempurna kasih Bapa.

“Dari kekal Bapa melahirkan putra yang adalah gambar dari rupa-Nya, yang mengungkap diri-Nya, dan dengan demikian mengungkap­kan totalitas kuasa-Nya, yaitu apa yang telah dan terutama, yang akan dilakukan-Nya. Bapa mengungkapkan segala sesuatu di dalam putra yang merupakan pusat (medio) ungkapan seni diri-Nya,” (hlm 12).

Komunikasi kasih yang sempurna mengandaikan pluralitas Pribadi Ilahi: Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Untuk menjelaskan peran Roh Kudus dalam persekutuan Trinitas, Bonaven­tura menggunakan istilah caritas atau kemurahan hati. Dengan istilah itu, dia mau menunjukkan, relasi kasih yang terjalin antara Bapa dan Putra tidak hanya bersifat timbal balik, te­tapi juga sebagai kasih bersama. Roh Kudus merupakan ikatan kasih antara Bapa dan Putra. Karena itu, Ia me­rupakan karunia asali.

Sebagai pangkal karunia, Roh Ku­dus juga merupakan sumber rahmat dalam arti sebagai daya kekuatan yang membuahkan tindakan baik. Kepada jemaat di Korintus, Paulus berkata, “Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah yang telah kamu terima,” (hlm 37).

Bonaventura menjabarkan tiga keutamaan yang memungkinkan kerja rahmat dalam diri manusia yaitu kerendahan hati, ketekunan, dan kemurahan hati. Orang yang rendah hati mampu bersyukur atas segala rahmat yang diterimanya. Dia tidak mengklaim diri tuan atas rahmat dan kebaikan. Maka, rahmat yang telah di­terima dipersembahkan kepada Sang Sumber-Nya.

Yesus rendah hati karena memas­rahkan seluruh Diri dan mengem­balikan segala pemberian yang telah diterima-Nya dari Bapa kepada Bapa sendiri. Di salib, Dia menyerahkan roh-Nya kepada Bapa. Rahmat Tu­han juga bekerja pada orang yang bertekun mengupayakan kebaikan.

Tanda dari ketekunan ialah ketegaran menghadapi tantangan, tidak mudah menyerah. Orang tekun, mampu bertahan dalam suasana sulit. Akan tetapi, pada dasarnya dia dimungkinkan oleh kuasa Roh Kudus. Segala perkara dapat ditanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan pada mereka.

Rahmat akan semakin berdaya guna melalui sikap murah hati. Melalui sikap murah hati, rahmat tersebar kepada semakin banyak orang. Rahmat berbuah lebih ba­nyak ketika dibagikan kepada lebih banyak orang. Menurut Kitab Suci, manusia memperoleh rahmat dengan cuma-cuma. Sebab itu, hendaknya dia memberikan juga secara cuma-cuma pula. Membagikan rahmat yang diterima dari Allah berarti melawan egoisme diri. “Orang yang sungguh dipengaruhi Roh Tuhan tidak menjadi cemburu, tapi bergembira, bahkan dengan rasa gembira yang lebih be­sar,” (hlm 91).

Pesan penting buku, setiap orang menggunakan karunia yang dimili­kinya dengan baik. Dia memberi ke­kayaan bagi persekutuan komunitas. Sikap dasar yang diandaikan dalam komunitas ialah kemampuan untuk bersyukur. Orang yang hidup dalam rasa syukur, mampu merasa puas atas kebaikan yang telah diterima, tanpa membatasi keinginan sendiri, se­hingga tidak menuntut lebih.

Dalam rasa syukur, orang terdo­rong untuk berbagi dan bekerja sama. Misalnya, dalam komunitas, orang yang mampu bersyukur, jalan untuk bersikap adil pun terbuka baginya. Se­baliknya, ketika orang tidak bersyukur, cenderung egois dan mengutamakan kepentingan pribadi. Diresensi Muhammad Aminulloh, Alumnus STAI Al-Khoziny Buduran Sidoarjo

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment