Rohani Bertumbuh dalam Komunitas Kasih | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 11 2019
No Comments
PERADA

Rohani Bertumbuh dalam Komunitas Kasih

Rohani Bertumbuh dalam Komunitas Kasih

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Banyak orang dalam hidup barangkali tidak memberi banyak perhatian terhadap jiwa. Jika jiwa diabaikan, dilecehkan, dan diperlakukan buruk atau keterlaluan, akan tetap hidup, namun dengan kebutuhan dan kepenuhan yang terkoyak.

Alkitab dipenuhi dengan berbagai deskripsi tentang sarana-sarana kasih karunia yang dapat dipakai untuk memulihkan jiwa. Memahami cara Allah telah menciptakan kehidupan dapat menjadi awal pengharapan. Ketika pemahaman mulai diaplikasikan, direspons dengan iman, waktu, tubuh dan pikiran dipasrahkan untuk diperbarui.

Orang akan terkejut mendapati dirinya berjumpa dengan Yang Lain. Dia masuk ke dalam realitas yang membuat jiwa dapat dirawat. Yesus ada di sana dan jiwa menemukan nilainya (hlm 10). Hidup bersama Allah untuk mendapat orang-orang yang penuh kasih dan terlibat dalam komunitas. Pola individualistis dalam kehidupan rohani bukan saja tidak dimaksudkan oleh para pemimpin Gereja perdana, tapi juga bisa dikatakan, tidak pernah terbayangkan oleh mereka.

Generasi pertama pengikut Kristus hidup dalam komunitas kasih. “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati sambil memuji Allah. Mereka disukai semua orang. Tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan,” (hlm 15).

Relasi-relasi yang menjadi ciri komunitas ini adalah refleksi dari transformasi mendalam yang dialami sebagai individu. Apa pun penyebab penderitaan mengisolasi diri dari komunitas pengikut Yesus dapat membunuh kehidupan Allah di dalam diri. Di dalam Alkitab, pengikut Yesus disebut sebagai komunitas ekklesia, yaitu orang-orang yang “dipanggil keluar.”

Ikatan-ikatan rohani yang tidak kelihatan saling menghubungkan mereka satu sama lain. Ikatan-ikatan tersebut signifikan bagi kelangsungan hidup dan pertumbuhan rohani. Ilustrasi terbaik yang menjelaskan kedalaman hubungan ini ketika tubuh yang memiliki banyak anggota berbeda-beda, tetapi saling terhubung dan tergantung.

Mengisolasi diri secara relasional benar-benar tidak sesuai dengan eksistensi Gereja. Individu perlu bertumbuh dalam pengetahuan tentang Alkitab dan ajaran iman Kristen. Ia juga harus bertumbuh dan menjadi dewasa dalam komunitas. Relasi intensional saling mendorong dan bertanggung jawab dengan orangorang beriman lain harus menjadi bagian dalam pengalaman orang Kristen.

Buku ini memberikan tantangan agar setiap orang meningkatkan pertumbuhan rohani maupun menjadi bagian komunitas kasih. “Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia. Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhi diri dari pertemuan-pertemuan ibadah. Marilah kita saling menasihati dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat,” (hlm 28).

Buku ini menjelaskan tiga tahap pertumbuhan rohani dan formasi spiritual, yaitu learning together (mempelajari bersama), journeying together (menjalani bersama), dan following together (mengikuti bersama). Dalam tahap mempelajari bersama, setiap individu bersama-sama dengan yang lain menegakkan keyakinankeyakinan pokok, pengenalan Alkitab, dan dasar-dasar berelasi dengan Allah.

Pada fase menjalani bersama, setiap orang memiliki keakraban dengan orang lain dan mengembangkan ketergantungan pada Allah yang makin besar melalui latihan-latihan rohani. Puncaknya, pada fase mengikuti bersama, setiap orang dalam komunitas membangun kehidupan yang semakin peka di atas dasar pemahaman Alkitab yang mantap dan relasi kuat dengan Allah (hlm 153).

 

Diresensi Muhammad Aminulloh, Alumnus STAI Al-Khoziny Buduran Sidoarjo

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment