Koran Jakarta | November 12 2019
No Comments

Sensasi Gurih Mie Ayam Tumini

Sensasi Gurih Mie Ayam Tumini

Foto : koran jakarta/eko s putro
A   A   A   Pengaturan Font

Menyantap mie ayam sudah lazim bagi masyarakat Indonesia. Namun jika ingin rasa dan nuansa yang berbeda, cobalah Mie Ayam Tumini, salah satu kuliner favorit di Jogjakarta.

Jogjakarta, identik dengan keraton, budaya, dan keanekaragaman wisata yang membikin wisatawan betah berlama-lama melancong ke kota cantik ini. Tapi, tidak hanya itu. Jogjakarta juga punya warisan-warisan kuliner yang terkenal sangat enak.

Artinya, membicarakan Jogjakarta tidak boleh melewatkan sajian kulinernya. Tak hanya gudeg, masyarakat juga bakal ketagihan dengan banyak sajian khas lokal. Salah satunya adalah mie ayam.

Apa yang istimewa dari mie ayam di Jogjakarta. Sepintas, memang tak jauh beda dengan tampilan mie ayam di kota-kota lain di Indonesia. Sebab mie ayam memang menu lazim yang ada di Indonesia.

Ada satu kuliner mie ayam yang membuat penasaran. Karena terkenal dengan penyajiannya yang khas dan rasanya yang ‘nendang’ kelezatannya. Namanya, Mie Ayam Bu Tumini atau yang biasa dikenal Mie Ayam Tumini.

Pecinta kuliner Jogja tak asing lagi dengan warung Mie Ayam Tumini. Letaknya di Jalan Imogiri Timur No. 187, Umbul Harjo, Jogja. Lebih tepatnya di sebelah utara pintu masuk Terminal Giwangan. Tempatnya mudah dikenali.

Jangan fokus ke tampilan fisik warungnya. Warung makan ini boleh saja sederhana. Tapi coba perhatikan pengunjungnya. Setiap hari, jumlah pengunjung yang datang cukup fantastis. Membludak. Bukan hanya dari calon penumpang bis. Yang datang kebanyakan memang khuis ingin menikmati kelezatan mie ayam ini, dari mahasiswa hingga orang kantoran.

Mie Ayam Bu Tumini sudah lama berdiri. Kabarnya, sudah berjualan sejak tahun 1990. Meski cukup lama berdiri, rasa sempurna mie ayam ini tidak berubah. Sehingga, ramainya kedai pinggir jalan nan sederhana ini tidak hanya karena kelegendarisan warung. Namun, pecinta kuliner rela antre karena rasanya yang tak pernah berubah.

Teksturnya masih lembut dan bikin lidah tak berhenti bergoyang. Porsinya juga tidak sedikit, sehingga puas makan siang di tempat makan ini. Dijamin tak akan rugi kalau mampir ke warung milik Bu Tumini.

Selain porsinya yang banyak, Mie Ayam Bu Tumini memiliki ciri khas. Ukuran mie di warung ini cukup besar dan terasa kenyal ketika dikunyah. Sementara kuahnya lebih kental dibandingkan warung lain.

Warnanya kecokelatan dengan rasa manis yang menggugah selera. Rasa spesial tersebut dihasilkan dari proses memasak ayam yang digunakan sebagai topping. Menggiurkan.

Potongan daging yang bercampur dengan kuah kental bukanlah satu-satunya topping di warung ini. Pengunjung juga bisa memesan tambahan ceker ayam yang rasanya tak kalah nendang. Teksturnya lembut banget dan mudah untuk disantap.

Selain mie ayam ceker, ada juga menu mie ayam jumbo hingga ekstra ayam. Porsinya banyak dan sudah lengkap dengan potongan sawi.

Ya, berbeda dengan Mie Ayam gerobak pinggir jalan atau Mie Ayam Bangka dan Mie Ayam Chineese Food pada umumnya yang memiliki kuah cenderung encer, Mie Ayam Tumini menyajikan kuah sangat kental, berwarna coklat segar, dan terasa gurih manis.

“Kuahnya luar biasa. Tapi kalau tidak suka manis memang rasanya eneg. Tapi kalau ditambah sambal, jadinya luar biasa. Unik karena Mie Ayam dengan kuah seperti ini rasanya ya cuma ada di sini,” kata Ardiant Surya, 37 tahun, pelanggan Mie Ayam Tumini sejak 4 tahun yang lalu.

Lezat adalah pilihan kata paling banyak dipilih oleh pelanggan untuk menggambarkan sensasi rasa semangkok Mie Ayam Tumini saat

 

 

Koran Jakarta secara acak bertanya pada pelanggan. “Kelezatannya berada di kuahnya yang mirip semur itu, kental manis yang berpadu dengan rasa mienya yang empuk kenyal dan taburan irisan ayam di atasnya,” kata pengunjung.

Untuk kelezatan Mie Ayam tiada banding itu pelanggan hanya perlu mengeluarkan uang 10 ribu rupiah dan tambah 4 ribu rupiah untuk ukuran jumbo. “Kalau saya lebih pilih Mie Ayam Ceker, lezatnya lebih lebih,” kata Ivan, 28 tahun.

Ceker yang empuk dengan kuah kental Mie Ayamnya memang jadi ciri lain dari Tumini. Empuknya ceker ayam ini selain menambah kelezatan tapi juga menjadikan aktivitas dalam setiap gigitan tulang cekernya sebagai ritual yang seru. “Belepotan semua tapi ya beginilah makan di Tumini,” kata Sari, 22 tahun, mahasiswa UGM.

Sari biasa menambah tak hanya ceker tapi juga sawi. Di Tumini, sawi yang diguyur kuah kental dijual tersendiri dengan harga 4 ribu ruoiah dan jadi 8 ribu rupiah jika ditambah irisan ayam. YK/E-6

Punya Pelanggan Fanatik

Kesan sederhana memang ciri khas tampilan warung Mie Ayam Tumini. Tempatnya tidak selega dan senyaman sekelas restoran ber-AC. Di warung ini, berdesakan dan antre menunggu kursi maupun menunggu semangkok Mie Ayam diantarkan ke meja adalah pola penyajiannya.

Rasanya, bagi siapapun yang pernah makan di warung ini tidak pernah tidak mengalami mengantre hanya untuk sekadar dapat tempat duduk. “Jangan lupa atapnya seng, puanasnya minta ampun,” kata Jodi, 21 tahun, mahasiswa kehutanan UGM pelanggan Tumini sejak ia pertama masuk UGM.

Bagi mahasiswa, makan di Tumini adalah kemewahan karena bisa pilih porsi besar dengan harga ramah di kantong mereka. Tapi bagi orang kantoran, yang setiap waktu makan siang, memenuhi warung Tumini dengan peluh bercururan yang bikin basah baju kerja adalah sesuatu

 

 

yang musti ditanggung demi bisa menikmati lezatnya kuah Mie Ayam Tumini.

Ratusan motor yang berjajar dan puluhan mobil parkir di seberang warung Tumini, memberi bukti bahwa pelanggan antusias berburu mie lokal ini. “Sudah nggak peduli ya panas dan antre, malah seru,” kata Dick Doank, 39 tahun, pekerja perusahaan teknologi internet yang menjadi pelanggan Tumini sejak lama. YK/E-6

 

Seribu Porsi Setiap Hari

 

Menghitung berapa jumlah pelanggan Mie Ayam Tumini setiap harinya, tentu saja belum ada data resmi. Yang pasti jumlahnya banyak. Namun jika bertanya ke karyawan warung, jawabnya adalah ribuan atau seribu porsi setiap hari habis disajikan kepada pelanggan.

“Ribuan, sampai pegel semua badan,” kata Hadi, salah satu karyawan Tumini. Ramainya pelanggan seringkali membuat banyak peristiwa bisa diamati di Tumini. Mangkuk yang dijajar rapi menunggu mie usai diseduh, kecepatan karyawan membagi mie mangkuk-mangkuk, membagi irisan ayam, dan menuang kuah.

Dan yang paling mengesankan tentu saja kegesitan karyawan bagian minum yang mengantarkan, bisa puluhan gelas, dengan sepuluh jari penuh membawa gelas. Akrobat makin seru saat mereka membereskan bekas mangkuk dan gelas, tak hanya 10 jari tapi di atas gelas masih ditumpuk mangkuk atau gelas lagi. “Minuman favorit di sini es teh dan es jeruk,” kata salah satu karyawan bagian minum.

 

Menurut Ferdi Evantyo, 19 tahun, mahasiswa semester awal MIPA ITB asli Jakarta, pada awal Juli datang ke Jogja untuk berlibur. Dia mengaku puas dengan sensasi makan di warung ini.

Ia siang itu menghabiskan 2 mangkok Mie Ayam. Sebelumnya ia memang tidak berniat untuk sampai 2 mangkok.

“Namun begitu mencoba gila lezatnya. Dan ini panasnya minta ampun. Tapi seru, mas. Karyawan juga lucu-lucu dan terampil banget kerjanya. Di Bandung atau Jakarta belum pernah tuh nemuin kayak gini,” katanya.

Bagi Ferdi, pergi makan ke Tumini adalah pengalaman tak terlupakan. Menurutnya, Mie Ayam Tumini adalah pengalaman Jogja ‘banget’. Selain harganya murah, porsi jumbo, lezat, dan suasana yang ramai penuh anak muda dan orang kantoran berpadu jadi satu.  YK/ E-6

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment