Koran Jakarta | August 19 2019
No Comments

Setelah Pertemuan Jokowi-Prabowo

Setelah Pertemuan Jokowi-Prabowo
A   A   A   Pengaturan Font

Waktu yang ditunggu-tunggu masyarakat akhirnya terjadi juga. Momen tersebut adalah pertemuan para mantan Capres 2019 Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto. Jokowi telah dinyatakan Komisi Pemi­lihan Umum (KPU) memenangkan Pilpres 2019, usai gugatan Prabowo ke Mahkamah Konstitusi ditolah semua. Namun, Prabowo-Sandi tidak juga menyerah. Mereka dari MK belok ke Mahkamah Agung dalam upaya mencari kemenangan.

Di tengah upaya mencari keadilan di MA tersebut, mala­han terjadi peristiwa tak terduga, yang sudah lama digadang-gadang. Keduanya, Jokowi dan Prabowo justru bertemu. Ke­duanya memilih angkutan massal Moda Raya Terpadu (MRT) untuk tempat bertemu. Tak ada ketegangan ataupun saling ki­kuk. Jokowi dan Prabowo langsung bersalaman dan cium pipi kiri dan kanan. Seperti biasa mereka lalu tertawa disaksikan masyarakat yang berada di stasiun MRT Lebak Bulus.

Prabowo dengan langkah cepat mendekati Jokowi. Setelah tinggal beberapa langkah lagi, kemudian Ketua Umum Gerin­dra tersebut, memberi hormat kepada Jokowi. Tentu saja Pre­siden terpilih itu lalu membalas hormat tersebut. Keduanya kemudian berpelukan dan tertawa.

Tak pelak pertemuan Jokowi dan Prabowo di Stasiun MRT Lebak Bulus menjadi ‘santapan’ warga pengguna MRT. Me­reka lalu membidikkan HP untuk mengabadikan pertemuan bersejarah tersebut. Maklum ini adalah pertemuan pertama usai mereka mengikuti Pilpres 2019.

Kelambanan pertemuan karena mereka mengaku sibuk, sehingga baru beberapa hari lalu bertemu. Yang perlu disimak adalah ucapan Jokowi. Katanya, dia dan Prabowo merupakan sahabat dan saudara. Maka, dia minta kepada para pendu­kung untuk berhenti bermusu­han. “Tak ada lagi 01 dan tak ada lagi 02. Tak ada lagi cebong dan tak ada lagi kampret. Yang ada adalah garuda, Garuda Pancasila,” tandas Jokowi.

Ungkapan Jokowi itu perlu dicermati karena masih saja ada kelompok di belakang Prabowo-Sandi yang tidak se­nang dengan pertemuan pe­kan lalu itu. Bahkan mereka lalu meninggalkan Prabowo. Para relawan juga kecewa dengan pertemuan Jokowi-Prabowo.

Namun, sebagai bangsa yang dewasa hendaknya ja­ngan ikut-ikut kelompok ini. Bisa jadi mereka tidak senang bangsa ini akur. Apakah mere­ka itu mau menjaga status quo agar terus terjadi perpecahan pascapilpres. Itu pandangan yang tidak perlu diikuti. Se­baliknya, dengan pertemuan Jokowi-Prabowo, pendukung yang dewasa tentu berpikir jernih. Mereka harus mulai meninggalkan permusuhan sebagai masa lalu.

Lepas dari upaya Prabowo ke MA, yang oleh KPU diang­gap salah alamat, Mari menyongsong masa depan yang lebih serius. Hendaknya pertemuan Jokowi-Prabowo dilihat seba­gai simbol bersatunya kembali keterpisahan. Maka, bawa­han atau para pendukung juga harus mengikuti ‘kepala’-nya. Kepala-kepalanya sudah akur, mengapa bawahan akan terus tidak akur.

Jangan habiskan energi bangsa untuk pikiran dan tin­dakan tidak ada gunanya seperti menjaga permusuhan. Le­bih baik energi rakyat digunakan sepenuhnya untuk bekerja sekuat tenaga karena hidup semakin berat. Biarkan mereka yang mau tetap menjaga permusuhan busuk dengan diri sen­diri. Biarkan rasa dengki dan permusuhan menggerogoti hi­dup mereka.

Sebagai rakyat yang waras, mari menata kembali kehidupan yang selama ini terusik. Kini sudah tidak ada lagi beda warna. Semua satu warna bangsa Indonesia yang bersatu. Hentikan segala permusuhan. Mari bergandengan tangan merampung­kan pekerjaan menuju Indonesia sejahtera yang hebat.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment