Koran Jakarta | September 18 2019
No Comments
Prospek Usaha I Penguasaan Pasar Kunci Utama dalam Persaingan Bebas

SMGR Makin Siap Hadapi Perdagangan Bebas

SMGR Makin Siap Hadapi Perdagangan Bebas

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Bergabungnya SMCB ke Semen Indonesia sangat menguntungkan dan meningkatkan daya saing dalam pasar bebas.

 

JAKARTA - Kinerja emiten semen, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) yang telah meng­akuisisi PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) pada awal tahun 2019, bakal kian menguat. Hal ini tak lepas dari posisi SMCB dalam peta persaingan industri semen nasional yang berada di tiga besar, sehingga secara induk usaha (holding) dapat dipastikan bakal turut mem­perkuat daya saing Semen In­donesia Group di tengah per­saingan bebas yang tak dapat dielakkan lagi.

Pengamat pasar modal, Hariyajid Ramelan, men­gatakan di era perdagangan be­bas terdiri atas pemain-pemain dari Vietnam, Asia Tenggara, dan dari negara mana saja ber­datangan seiring kesepakatan free trade, penguasaan pasar itu sangat penting.

“Kita tahu selama ini po­sisi Holcim (SMCB) di pasar juga cukup kuat, sehingga ber­gabungnya (SMCB) ke Semen Indonesia tentu sangat men­guntungkan. Daya saing akan semakin kuat,” ungkapnya di Jakarta, pekan lalu (16/8).

Sebagai perbandingan, Hariyajid mencontohkan yang terjadi di industri perbankan nasional. Banyaknya bank-bank BUMN yang berada di atas jajaran pemain utama per­bankan Tanah Air, tentu men­jadi keuntungan di tengah pen­etrasi bank-bank asing yang semakin massif.

“Itulah alasan kenapa kon­sep holdingisasi penting. Bank-bank BUMN disatukan agar se­cara size, secara permodalan, dan lain-lain lebih bisa bersa­ing. Justru di perbankan masih perlu intervensi pemerintah untuk bikin holding. Bedanya di industri semen justru hold­ingisasi itu terjadi secara ala­miah sesuai pendekatan bisnis. Jadi lebih bagus,” jelas dia.

Pendapat senada juga dis­ampaikan oleh Direktur Utama Investa Saran Mandiri, Hans Kwee. Menurut Hans, pen­guasaan pasar menjadi salah satu kunci utama dalam per­saingan bebas di era sekarang ini. Meski kemudian, Hans juga mengingatkan agar cost yang telah dikeluarkan untuk mem­perbesar pangsa pasar itu da­pat segera disesuaikan dengan potensi bisnis di masa menda­tang. “Intinya secara forward looking juga harus disiapkan bahwa tekanan di industri se­men ini ke depan seperti apa,” kata dia.

Bahwa,dengan SMCB yang telah diakuisisi SMGR mem­buat pangsa pasar secara grup lebih besar, itu memang ba­gus. Dalam kacamata investor memang positif. “Namun un­tuk next step perlu disiapkan strategi selanjutnya mau seper­ti apa. Perlu segera ada growth secara penjualan agar cost yang telah dikeluarkan untuk mem­perbesar pasar tadi terbayar,” jelas Hans.

Saat Tepat

Sementara itu, terkait kriti­kan sebagian pihak bahwa aksi akuisisi dilakukan SMGR saat SMCB masih dalam kondisi merugi, hal itu juga dibantah baik oleh Hariyajid maupun Hans Kwee. Menurut Hariyajid, dalam logika bisnis memang upaya akuisisi (buy) yang baik adalah di saat harga murah, yaitu ketika kondisi perusa­haan yang mau dibeli belum dalam kondisi baik.

“Ya, sama seperti kita in­vestasi di saham saja. Mau beli saham saat harga murah atau mahal? Kalau sudah mahal buat apa? Nah, dalam konteks perusahaan, mau beli murah ya tentu timingnya saat mereka masih bleeding. Kalau mereka kinerjanya sudah bagus, tren bisnisnya naik, ya pasti nggak mau dibeli di harga murah. Logikanya simpel saja. Justru kemarin itu (saat SMGR meng­akuisisi SMCB) saatnya sudah tepat karena secara harga ma­sih di level bawah,” kata Hariy­ajid. yni/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment