Koran Jakarta | September 18 2019
No Comments

Soekarno dan Khittah Kemerdekaan

Soekarno dan Khittah Kemerdekaan

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

oleh Muhammadun

Peringatan kemer­dekaan selalu menancap dalam memori ke­bangsaan kita sebagai perayaan hari lahirnya sebuah bangsa yang dici­takan. Sayangnya, memori itu hanya diisi dengan perayaan seremonial saja, bukan sebuah momentum memperbaharui semangat perjuangan untuk menegakkan kedaulatan Ne­gara Kesatuan Republik Indo­nesia (NKRI). Sudah saatnya kebiasaan seremonial ini di­bongkar, sehingga lahir pers­pektif baru dalam memandang Indonesia.

Momentum kemerdekaan sangat tepat untuk mengenang perjuangan Soekarno dan para pendiri bangsa. Gerak hidup Soekarno dan para pendiri bangsa sudah diwakafkan un­tuk Indonesia, terbukti jejak sejarahnya sangat menentu­kan gerak sejarah Indonesia. Dengan meneladani sejarah Soekarno dan para pendiri bangsa lainnya, generasi masa depan akan mempunyai refe­rensi perjuangan dan keteguh­an keyakinan dalam mengabdi­kan diri bagi kemajuan bangsa.

Sebelum kemerdekaan In­donesia, Soekarno sudah ber­suara lantang menentang pen­jajah. Pada 18 Agustus 1930, Soekarno bersama Gatot Mang­kupraja, Maskun Sumadireja, dan Soepriadinata diadili di Gedung Landraad, Bandung, karena dituduh memberontak. Di ruang pengadilan rezim ko­lonial Belanda itulah, Soekarno yang saat itu berusia 29 tahun membacakan pembelaannya yang terkenal berjudul Indone­sia Menggugat, seperti dikutip dari buku Bung Karno, Penyam­bung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis Cindy Adams.

Dalam ruang sidang itu, Soekarno bersuara amat lan­tang: “Semangat perjuangan rakyat yang berkobar-kobar akan dapat menghancurkan manusia lebih cepat daripada ribuan armada perang yang dipersenjatai lengkap. Suatu negara dapat berdiri tanpa tank dan meriam. Akan tetapi, suatu bangsa ti­dak mungkin bertahan tanpa kepercayaan,” ujar Soekarno berapi-api di Gedung Landraad, Bandung, tahun 1930.

Dari dalam ruang pengadilan yang sempit itu, suara Soekarno seolah me­nembus dinding-dinding ge­dung yang tebal, membahana ke seantero Nusantara, meng­gelorakan rakyat Indonesia un­tuk berjuang lebih keras meng­usir penjajahan dari muka bumi.

Soekarno dan kawan-kawan akhirnya dipenjarakan. “Jikalau sudah menjadi Kehendak Yang Maha Kuasa bahwa gerakan yang saya pimpin akan mem­peroleh kemajuan yang lebih pesat dengan penderitaan saya daripada dengan kebebasan saya, maka saya menyerahkan diri dengan pengabdian yang setinggi-tingginya ke hadap­an Ibu lndonesia dan mudah-mudahan ia menerima nasib saya sebagai pengorbanan yang harum semerbak di atas pangkuan persadanya,” seru Soekarno mengakhiri pembe­laannya.

Gelora kebebasan yang diku­mandangkan Soekarno nyata­nya tidak hanya menggerak­kan semangat kaum muda saat zaman pergerakan. Disadari atau tidak, pemuda dan ma­hasiswa hingga kini pun terus menyuarakan gugatan mere­ka terhadap ketidakadilan dan imperialisme gaya baru yang mengabaikan kesejahteraan rakyat. Di zaman kemerdekaan, kaum muda melawan melalui pemikiran-pemikiran kreatif terhadap kapitalisme dan kebi­jakan pemerintahan yang tidak berpihak kepada kaum kecil.

Kalau dulu Soekarno ber­juang mengusir penjajahan kolonial Belanda, kini kaum muda harus berjuang meng­usir penjajahan dalam bentuk lain, yakni kebodohan dan pe­nguasaan ekonomi oleh asing.

Perjuangan Para Pahlawan

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya,” demikian seru Soekarno dalam pidato Hari Pahlawan, 10 Nopember 1961. Jasa pahlawan akan memberi­kan motivasi perjuangan. Ka­rena jasa pahlawan memberi­kan energi besar bagi generasi selanjutnya. Makanya, Soeka­rno begitu bersemangat dalam perjuangan. Semangat itulah yang menjadikan Soekarno begitu tegar dan berani dalam menentang penjajah. Lihat saja yang dikatakan,“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”.

Selain karena pahlawan berjuang begitu tulus untuk bangsanya, dengan menge­nang perjuangan pahlawan, maka bangsa ini bisa mena­tap masa depan bukan dengan mata buta, melainkan dengan pengamatan yang jernih dan cerdas untuk mencari peluang kemajuan dan kesejahteraan. Masa lalu sangat aktual untuk menelaah masa depan. Ini de­ngan tegas dinyatakan Bung Karno. “Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah ber­guna sekali untuk menjadi kaca bengala dari pada masa yang akan datang,” seru Soekarno dalam pidato Proklamasi, 17 Agustus 1966.

Dalam menegakkan per­juangannya, Soekarno meng­gugah semangat nasionalisme bangsanya dengan penuh ke­sungguhan. Karena bagi dia, ada perbedaan antara nasion­alisme borjuis di eropa dan nasionalisme yang dianut oleh pejuang anti-kolonial di dunia ketiga: Gandhi dan Sun Yat Sen. Soekarno melihat nasional­isme di eropa itu nasionalisme borjuis, yaitu suatu ‘nasional­isme yang bersifat serang-me­nyerang, suatu nasionalisme yang mengejar keperluan sen­diri, suatu nasionalisme perda­gangan yang untung atau rugi’.

Khiitah Perjuangan

Khiitah perjuangan Soeka­rno dan para pendiri bangsa ini semata karena sebuah pe­ngorbanan dengan penuh ketulusan, bukan pangkat dan jabatan. Soekarno tak pernah menghitung untung dan rugi dalam pengabdiannya. Semua itu diberikan ntuk Indone­sia. “Tidak seorang pun yang menghitung-hitung: berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya,” seru Soekarno dalam pidato Prokla­masi, 17 Agustus 1956.

Karena pengabdian tanpa memperhartikan untung dan rugi, maka kekuasaan yang di­raih bukanlah untuk dirinya sendiri. Kekuasan yang sejati adalah milik rakyat, dan di atas rakyat adalah kekuasan Tuhan. Tak ada niat dalam diri Soekar­no untuk menjadi penguasa se­panjang hayat. Walaupun akhir sejarah kuasanya penuh trage­di, tetapi dalam dirinya kekua­saan rakyatlah yang langgeng, bukan dirinya.

“Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekua­saan rakyat. Dan diatas segala­nya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa,” ujar Soekarno.

Pengorbanan merupakan ciri khas para pejuang. Ciri ini yang sekarang mulai banyak luntur dari generasi masa kini. Pengorbanan hanya diartikan sangat sempit, yakni pengor­banan untuk kepentingan se­saat dan buat dirinya sendiri. Ini jelas sangat berlawanan dengan makna awalnya. Ka­lau sudah diselewengkan be­gitu, maka pengorbanan harus dikembalikan kepada makna asalnya. Penulis, Pengajar pada STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment