Koran Jakarta | September 19 2019
No Comments

Tak Akan Putus Asa Orang yang Percaya pada Tuhan

Tak Akan Putus Asa Orang yang Percaya pada Tuhan
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Tangan Tuhan Tak Pernah Melepasmu

Penulis : Natasha Radiani

Penerbit : Psikologi Corner

Cetakan : April 2019

Tebal : 271 halaman

ISBN : 978-602-0770-79-6

Seringkali manusia lupa, bahwa ada Tuhan yang selalu ada untuknya. Saat hati hanya fokus pada dunia, justru ia akan lalai dari hakikat kehidup­an. Bahkan, tak jarang seseorang lupa bahwa Tuhan selalu mengawasinya. Tuhan punya jalan keluar untuk semua masalahnya. Jika tak kembali pada Tuhan, maka manusia akan cenderung mengambil langkah pelarian dari ma­salahnya. Yang bisa jadi justru menam­bah masalah yang sudah ada.

Pelajaran hidup bisa diambil dari mana saja, termasuk dari lingkungan di sekitar kita. Salah satunya adalah filosofi pohon pisang. Kakek mengajarkan filosofi ini kepada Vendi, cucunya yang masih remaja.

“Kalau pingin hidup tenang, hidu­plah seperti pohon pisang.” Kata Kakek pada Vendi. Pohon pisang itu tidak mau mati sebelum berbuah. Ia ingin kehadirannya di dunia ini bisa memberi manfaat sebelum ajal menjemputnya. Pohon pisang mempersiapkan gene­rasi penerusnya sebelum ia ditebas dan mati. Yaitu tunas yang berada di sampingnya. Tunas-tunas muda akan meneruskan tugasnya memberi man­faat kebaikan pada siapa pun yang memetik buahnya, mengambil daun­nya, atau memanfaatkan batangnya. (Hal. 98)

Kehidupan juga mendewasakan Pu­tri yang baru saja meraih gelar sarjana. Seperti halnya kebanyakan orang, Putri ingin segera memperoleh pekerjaan setelah lulus kuliah. Namun, kebangga­an atas ijazahnya seolah hancur ketika ia ditertawakan pada saat wawancara.

Putri direndahkan oleh pemilik perusahaan yang ia lamar. Pemilik perusahaan itu menertawakannya, dan mengatakan bahwa ia pasti akan sulit mendapatkan pekerjaan dengan bekal ijazah jurusan Bahasa Indonesia. Putri kecewa, namun ia tetap berusaha dan berdoa. Hingga tak lama kemudian ia diterima di sebuah perusahaan yang lebih baik daripada perusahaan yang telah menolaknya itu.

Kisahnya menginspirasi kita. Jika kita diremehkan atau dihina oleh orang lain, janganlah berputus asa. Buktikanlah bahwa kita mampu mendapatkan yang terbaik. Tetaplah bersabar, berusaha, dan berdoa untuk mencapai harapan yang kita impikan hingga harapan itu dapat terwujud. “Tuhan tahu apa yang kita perlukan, meskipun jalan yang ha­rus kita lewati berliku-liku.” (Hal. 193)

Fisik yang gagah belum tentu ber­banding lurus dengan ketegaran hati. Seorang pemuda rela menempuh perja­lanan jauh demi menjawab pertanyaan hatinya akan hakikat kehidupan. Ia ada­lah pemuda yang gagah. Tapi sayang, pakaiannya lusuh, dan ia berjalan mem­bungkuk karena membawa tas yang sangat berat. Ia membawa semua benda yang menurutnya telah dapat mem­bantunya bangkit dari kesedihan dan penderitaan. Baginya itu semua adalah barang berharga. Hingga ia bertemu dengan seorang kakek yang dengan ramah menyapanya. Ia pun menyam­paikan pada Sang Kakek yang bijaksana itu, bahwa ia sudah lelah mencari arti hakikat kehidupan.

Sang kakek tidak serta merta me­minta pemuda itu mengurangi beban di tas yang ia bawa. Justru dari situ, Sang kakek memberi nasihat tentang hakikat kehidupan pada pemuda itu. Sang kakek mengatakan bahwa penderita­an, kesepian, kegagalan, tangisan, air mata, dan bencana, semuanya sangat bermanfaat untuk mendewasakan kehidupan kita. Itu semua membuat kita lebih tabah dan kuat menghada­pi tantangan hidup di masa depan. Namun pada saat kita ingin melangkah maju, jika kita tidak melepaskan hal-hal yang dibelakang itu, maka hal-hal itu hanya akan menjadi beban langqkah kita. “Letakkanlah semua yang mem­bebani hidupmu, maka kehidupanmu akan menjadi lebih ringan dan kau bisa menikmati hidupmu.” (Hal. 267)

Buku ini menceritakan kisah-kisah dari orang-orang yang nyaris menyerah dalam menghadapi permasalahan hi­dup. Baik itu tentang keluarga, peker­jaan, persahabatan, atau cinta. Mereka yang putus asa bahkan sempat memi­kirkan kematian untuk dirinya sebagai solusi, atau kematian orang yang dia anggap sebagai penyebab masalah yang ia hadapi.

Setiap kisah yang disajikan dalam buku ini mengingatkan pembaca agar tetap yakin pada Tuhan Yang Maha Kua­sa. Tuhan tak pernah meninggalkan kita. Bimbingan-Nya selalu ada, meskipun kadang kita tidak menyadari hal itu. Peresensi Sri Lestari, Alumna Bioteknologi Sekolah Pasca Sarjana UGM

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment