Tanamkan Pancasila ke Anak Sejak Dini | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 11 2019
No Comments
I deologi Bangsa I Toleransi Harus Menjadi Sebuah Kebutuhan

Tanamkan Pancasila ke Anak Sejak Dini

Tanamkan Pancasila ke Anak Sejak Dini

Foto : istimewa
Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Romo Antonius Benny Susetyo (tengah) pada seminar nasional yang diselenggarakan SETARA Institute, di Jakarta, Senin (11/11). Seminar ini mengangkat tema Merawat Kemajemukan, Merawat Negara Pancasila: Agenda Nasional Promosi Toleransi Pada Kepemimpinan Baru.
A   A   A   Pengaturan Font

Semua pihak terkait harus sinergis membangun tumbuhnya iklim toleransi, kerukunan, dan kemajemukan dalam kehidupan sehari-hari.

JAKARTA - Ekosistem Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sudah hilang. Untuk itu, semua pihak terkait harus sinergis mengembalikan ke sejarah awal bangsa, di mana Indonesia itu penuh kerukanan di tengah perbedaan. Para guru harus menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada anak-anak sejak usia dini.
“Guru dan orang tua harus membangun ekosistem Pancasila,” kata Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Romo Antonius Benny Susetyo pada seminar nasional yang diselenggarakan oleh SETARA Institute, di Jakarta, Senin (11/11).

Dalam seminar yang bertema Merawat Kemajemukan, Merawat Negara Pancasila: Agenda Nasional Promosi Toleransi Pada Kepemimpinan Baru, Romo Benny menjelaskan upaya agar anak-anak menghayati Pancasila bukan dengan cara didoktrin, tetapi bisa lewat dongeng, pembelajaran, kesenian, hingga permainan. Dengan begitu menjadi habituasi anak-anak sejak dini sudah menghayati Pancasila dalam hidup yang saling melengkapi.

Beberapa kali Romo Benny mengatakan ekosistem Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat sudah hilang. “Kita harus mengembalikan ke sejarah awal bangsa dengan penuh kerukanan di tengah perbedaan. Ekosistem Pancasila adalah ekosistem yang menerima perbedaan dan pandangan hidup bahwa berbeda itu saling melengkapi dan saling merajut persatuan,” ujar Romo Benny.

Pendidikan Karakter
Romo Benny menegaskan untuk mengembalikan ekosistem Pancasila ini harus ditanamkan sejak dini kepada anak-anak yang kemudian menjadikannya habituasi. “Pendidikan Pancasila dengan menanamkan pendidikan karakter kepada anak-anak untuk mengenal keragaman dan kemajemukan,” tambah Romo Benny.
Terdapat hal pokok yang harus ditanamkan dan menjadi habituasi sedari dini dalam pendidikan karakater yaitu mengajari perbedaan dan memberikan pemahaman bahwa berbeda itu saling melengkapi.

Acara ini juga dihadiri Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Bambang Soesatyo yang dalam penjelasannya menerangkan toleransi harus menjadi sebuah kebutuhan. “Tolerensi haruslah menjadi kebutuhan bagi kita semua karena kebinekaan adalah pembentuk bangsa. Bukan sesuatu yang sifatnya given, tapi harus diperjuangkan,” tegas Bambang.

Bambang menjelaskan radikalisme adalah embrio lahirnya terorisme melalui kekerasan dan aksi-aksi yang ekstrim. “Radikalisme adalah embrio lahirnya terorisme dengan ciri seperti intoleransi, fanatik selalu merasa benar sendiri, eksklusifisme, hingga kekerasan dalam bentuk lain,” tambahnya.

Oleh karena itu Bambang menegaskan pemerintah memiliki komitmen tinggi untuk menjaga ideologi bangsa dengan membuat dua lembaga untuk pemantapan ideologi bangsa yaitu MPR dan BPIP. “MPR dan BPIP adalah dua lembaga yang harus bekerja sama dalam pemantapan ideologi bangsa dalam mengawal dan menumbuhkan keyakinan terhadap ideologi Pancasila,” tegas Bambang.

Secara terpisah, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag), Kamaruddin Amin mengatakan Kemenag akan menggandeng organisasi massa (Ormas) Islam besar di Indonesia untuk bersama-sama mencegah radikalisme (deradikalisasi). Ormas Islam yang dilibatkan termasuk Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

“Mereka yaitu NU dan Muhammadiyah juga diakomodir di dalamnya. NU dan Muhammadiyah melakukan usaha sangat bagus dalam merawat keragaman di Indonesia,” kata Kamaruddin. eko/YK/Ant/N-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment