Koran Jakarta | November 12 2019
No Comments
PERADA

Tasawuf Sosial untuk Mengokohkan Pancasila

Tasawuf Sosial untuk Mengokohkan Pancasila

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Pemikiran besar dan gerakan transformasi seorang KH MA Sahal Mahfudh menjadi oase bagi generasi muda untuk mengokohkan Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pentingnya keterbukaan dalam menyikapi perbedaan yang memperkaya khazanah dan fleksibilitas agama dengan mengkajinya secara ilmiah dan mengupas dalil-dalil.

Demokrasi mengharuskan umat Islam yang memiliki persepsi dominan tentang Islam dan politik untuk melahirkan konsensus yang didasarkan pada kesadaran pluralisme dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Salah satu diskursus menarik dalam buku ini adalah terminologi tasawuf sosial yang digunakan setelah menelaah pemikiran dan laku hidup Kiai Sahal dalam bidang tasawuf. Dia menekankan nilai kebermanfaatan bagi sesama, mendorong manusia untuk mengimbangkan prestasi dunia dan akhirat, serta menghindarkan diri dari fatalisme absolut yang membahayakan masa depan.

Abu Wafa Al-Taftazani mengartikan tasawuf sebagai cara mengarungi hidup untuk meningkatkan kualitas akhlak, marifat, dan kebahagiaan sejati dengan metode pembersihan hati (halaman 16). Tasawuf sosial Kiai Sahal dapat dirumuskan setidaknya dalam beberapa pemikiran seperti saleh dan amanah.

Pemikiran lainnya tentang etika, wawasan, dan solusi untuk menetralisasi ketegangan antarkelompok Islam yang mengancam persatuan dan kesatuan umat. Ini memulai dengan prasangka baik terhadap sesama muslim, menghargai pendapat orang lain sepanjang ada dalilnya. Kemudian, tidak memaksakan kehendak bahwa pendapatnya paling benar, mengakui adanya perbedaan, dan tak membesarkannya (halaman 192).

Kiai Sahal menyebut hubungan manusia ada dua. Pertama, hubungan manusia dengan Sang Pencipta (al-khaliq) yang sifatnya eksklusif. Kedua, hubungan manusia dengan sesama manusia dan alam lingkungan yang sifatnya fleksibel. Dalam konteks hubungan kedua ini, prinsip dasarnya adalah toleransi (tasamuh).

Dalam konteks interaksi sesama muslim dikenal ukhuwwah islamiyyah yang harus terus dipupuk dan dikembangkan. Sedangkan dalam konteks interaksi dengan nonmuslim, prinsip toleransi harus dikedepankan demi kepentingan kemaslahatan umum. Dengan saling memahami satu dengan yang lain akan tercipta keteraturan umum yang dikenal dengan kedisiplinan sosial (halaman 193).

Maka menarik sekali kajian tasawuf yang dilakukan Sahal, sehingga layak dijadikan teladan bagi generasi muda. Negara kita membutuhkan pemikiran yang mendukung setiap upaya mengokohkan persatuan dan kesatuan di tengah derasnya arus pertikaian antarkelompok terutama di dunia maya yang seakan bebas dari tata krama. Pancasila sebagai dasar negara sudah selayaknya dijunjung tinggi bersama.

 

Diresensi Sabtiyaningsih, Lulusan SMA Negeri 1 Weru, Sukoharjo, Jateng

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment