Tiga Kelas SD Malangnengah Tangerang Ambruk | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 11 2019
No Comments
Fasilitas Pendidikan I Diduga akibat Pergerakan Tanah

Tiga Kelas SD Malangnengah Tangerang Ambruk

Tiga Kelas SD Malangnengah Tangerang Ambruk

Foto : ANTARA/FAUZAN
SEKOLAH AMBRUK I Siswa beraktivitas di depan bangunan sekolah yang ambruk di SDN Malangnengah II, Kabupaten Tangerang, Banten, Selasa (12/11). Pergeseran kontur tanah akibat hujan deras menyebabkan bangunan sekolah tersebut ambruk. Akibat sekolah ambruk kegiatan belajar mengajar di sekolah itu dipindahkan ke bangunan lain yang masih kokoh.
A   A   A   Pengaturan Font
Gejala bangunan akan ambruk sudah terlihat sejak dua pekan lalu ketika hujan deras dan angin kencang menghantam wilayah itu.

 

TANGERANG – Sebanyak 207 siswa SD Negeri Malangnengah II, Pagedangan, Ka­bupaten Tangerang, terpaksa menggunakan ruang kelas bergantian setelah tiga ruangan kelas di sekolah itu roboh akibat angin kencang pada Senin (11/11), sekitar pukul 18.00 WIB.

“Kegiatan belajar 200 lebih siswa tetap berjalan. Mereka belajar di tempat yang aman secara bergantian,” ujar Ke­pala SD Malangnengah II, Sae­ful Haris, Selasa (12/11).

Haris mengatakan para siswa diungsikan ke ruangan kelas lain yang tidak roboh dengan cara belajar bergan­tian. “Jadi, sekolah kami ada dua unit. Setiap unit ada tiga ruang kelas. Ini unit satu yang roboh untuk kegiatan belajar siswa kelas 3, 4, dan 5. Kini belajar bergantian pagi dan sore,” tegas dia.

Menurut Haris, SD Malangnengah II memiliki enam ruang kelas yang terbagi dalam dua unit bangunan. Ruang ke­las yang roboh merupakan ke­las 4, 5, dan 6. “Bangunan ini pertama kali dibangun tahun 1975 dan direhab tahun 2012 lalu,” kata dia.

Gejala bangunan akan am­bruk, kata Haris, sudah terlihat sejak dua pekan lalu ketika hu­jan deras dan angin kencang menghantam wilayah itu.

“Hujan deras dan angin kencang membuat struktur bangunan seperti bergeser, atap miring, dan tembok re­tak,” ujarnya.

Karena khawatir bangu­nan itu ambruk dan menimpa siswa, kata Haris, sejak sepe­kan lalu, ruang kelas itu diko­songkan. Siswa belajar secara bergantian di ruang kelas lain dan meubelair juga dikeluar­kan dari ruang kelas.

Tidak Ada Korban

Pernyataan yang sama di­ungkapkan Kepala Dinas Pen­didikan Kabupaten Tangerang, Saifullah.

“Tiga ruangan roboh, ata­pnya ambruk,” kata Saifullah.

Menurut Saifullah, tidak ada korban jiwa dalam peris­tiwa ini. Bahkan, meubelair yang ada di ruangan kelas ber­hasil diselamatkan.

“Karena indikasi ruangan akan ambruk sudah terlihat sejak dua pekan lalu, jadi an­tisipasinya sudah dilakukan sebelumnya,” ujarnya.

Tiga ruang kelas yang am­bruk tersebut, kata Saifullah, merupakan bangunan yang kokoh dan bagus. Bangunan tersebut direhab terakhir kali pada 2012.

Menurut Saifullah, dua pekan lalu, pihak sekolah su­dah melaporkan jika bangunan sekolah retak dan miring setelah diterpa hujan yang sangat deras. “Nah sejak ke­jadian itu, ruang kelas diko­songkan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi,” ujarnya.

Dia menduga, ambruknya bangunan satu lantai itu aki­bat faktor alam sekitar. Karena sebelumnya sudah memperli­hatkan tanda-tanda kerusakan.

“Mungkin karena perger­akan tanah, atau hujan dan angin kencang beberapa wak­tu lalu,” ucap dia.

Kasus sekolah ambruk ini bukan yang pertama kali. Se­belumnya, Kepolisian Daerah Jawa Timur telah menetapkan dua orang kontraktor berini­sial S dan D sebagai tersangka kasus ambruknya atap Seko­lah Dasar Negeri Gentong, Kota Pasuruan, yang mengaki­batkan jatuhnya korban jiwa.

Laporan tim Laboratorium Forensik, konstruksi bangunan Sekolah Dasar Negeri Gentong memang terkesan asal-asalan. Selain tindak pidana yang menyebabkan adanya korban jiwa, polisi juga menelusuri adanya dugaan tindak pidana korupsi pada proyek pembangunan tersebut dan tidak menutup kemungkinan ada tersangka lain. Ant/P-4

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment