Warga Singapura Keluhkan Larangan ”e-Scooter” | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 11 2019
No Comments
Kontroversi Transportasi

Warga Singapura Keluhkan Larangan ”e-Scooter”

Warga Singapura Keluhkan Larangan ”e-Scooter”

Foto : AFP/ROSLAN RAHMAN
PENGGUNA SKUTER LUSTRIK | Seorang pengantar jasa makanan di Singapura sedang melihat pada telepon pintarnya untuk mencari alamat yang hendak ia tuju sebelum menaiki skuter listriknya beberapa hari lalu.
A   A   A   Pengaturan Font

SINGAPURA – Sebagai se­buah negara yang amat kecil, warga Singapura menyambut amat baik kehadiran skuter lis­trik (e-scooter). Namun sejak ada sejumlah laporan kematian dan kebakaran yang dikaitkan dengan kendaraan beroda dua ini, otoritas setempat mulai memberlakukan serangkaian aturan-aturan yang amat ketat untuk mengerem semakin ba­nyaknya skuter listrik berseli­weran di Kota Singa itu.

Popularitas kendaraan lis­trik ini memang tengah melon­jak di berbagai kota besar du­nia. Namun seiring lonjakan itu, para pejalan kaki menge­luhkan haknya telah diserobot oleh kendaraan yang melaju dengan senyap ini hingga oto­ritas setempat pun mulai me­ngeluarkan aturan.

Di Singapura saat ini diper­kirakan ada puluhan ribu unit skuter listrik. Kendaraan ro­da dua ini amat populer digu­nakan kaum pekerja dan pen­gantar jasa antaran makanan di negara kota ini. Namun saat ada banyak kebakaran aparte­men yang dipicu meledaknya baterai dari skuter listrik saat diisi ulang serta insiden se­orang manula pengendara sepeda yang ditabrak pengen­dara skuter listrik pada Sep­tember lalu, warga Singapura mulai berang.

Akibat insiden-insiden ter­sebut, mulai pekan lalu, peja­bat di Singapura mulai mene­rapkan larangan skuter listrik ini melaju di trotoar dan pengendaranya yang melanggar akan mendapat teguran keras. Larangan denda dan hukum­an penjara akan mulai efektif diberlakukan bagi pelanggar aturan ini mulai Januari.

Penerapan larangan itu serta merta membuat marah sejum­lah warga yang amat menggan­tungkan hidupnya dengan me­ngendarai skuter listrik ini.

“Aturan tersebut amat ber­lebihan,” kata Venkata Goru­ganthu, 41 tahun, seorang pe­kerja kantoran yang mengen­darai skuter listrik ini tiap hari untuk menuju tempat tugas­nya. “Saat terjadi kecelakaan lalu lintas dan ada orang yang tewas akibat insiden itu, apa­kah kita perlu melarang mobil melintas di jalanan saat ini?” imbuh dia.

Akibat larangan itu, kini Go­ruganthu harus naik kendaraan umum menuju kantornya de­ngan waktu tempuh sekitar 45 menit, dua kali lebih lama wak­tu tempuhnya jika dibanding­kan ia naik skuter listriknya.

Walau ada keberatan, ada banyak warga Singapura yang mendukung larangan skuter listrik ini. “Ada banyak pengen­dara skuter listrik yang tak ber­tanggung jawab dan sembrono,” kata Vasukie Mayandi, 51 ta­hun. “Mereka mau seenaknya melaju dengan kencang di tro­toar dengan tak memperhati­kan pejalan kaki yang juga ber­jalan di trotoar itu,” imbuh dia.

Selain di Singapura, peme­rintah Prancis pekan lalu pun telah mengeluarkan larang­an penggunaan skuter listrik di trotoar dan akan mulai mem­batasi laju kendaraan roda dua ini hingga 25 kilometer per jam di sejumlah area tertentu.

Larangan skuter listrik mela­ju di trotoar juga diberlakukan di Jerman. Sementara di Lon­don, skuter listrik ini dilarang kecuali pengendaranya telah mengantongi SIM, asuransi, pa­jak, menggunakan helm dan memasang pelat nomor pada skuter listriknya. ang/AFP/I-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment