Koran Jakarta | September 18 2019
No Comments
Neraca Perdagangan l Sepanjang Januari-Juli 2019, Defisit Perdagangan RI-Tiongkok USD11,05 milliar

Waspadai Lonjakan Impor Tiongkok

Waspadai Lonjakan Impor Tiongkok

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Ketegangan dagang dengan AS mendorong Tiongkok melakukan pengalihan perdagangan ke negara lain, terutama Indonesia yang mempunyai tingkat konsumsi stabil dan populasi penduduk besar.

 

JAKARTA – Pemerintah di­nilai perlu mengambil lang­kah strategis guna menyiasati tren peningkatan impor barang dari Tiongkok. Trade diversion atau pengalihan perdagangan yang dilakukan Tiongkok jika tak disikapi secara serius akan melemahkan struktur per­dagangan Indonesia dalam jangka panjang

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kepala BPS, Suhariyanto menyebutkan neraca perda­gangan RI dengan Negeri Pan­da sepanjang Januari-Juli 2019 defisit 11,05 milliar dollar AS. Angka tersebut meningkat di­bandingkan catatan pada peri­ode sama tahun lalu sebesar 10,33 milliar dollar AS.

“Tak hanya dengan Tion­gkok, neraca perdagangan RI juga tekor dengan dua negara lainnya yaitu Australia dan Thailand. Dengan Thailand de­fisit sebesar 2,21 milliar dollar AS, sementara dengan negeri Kangguru (Australia) 1,5 mil­liar dollar AS,” ujar Suhariyanto di Jakarta, Kamis pekan lalu.

Secara umum, nilai impor Indonesia Juli 2019 mencapai 15,51 miliar dollar AS atau naik 34,96 persen dibanding Juni 2019, namun jika dibanding­kan Juli 2018 turun 15,21 per­sen. Adapun impor nonmigas Juli 2019 mencapai 13,77 miliar dollar AS atau naik 40,72 per­sen dibanding Juni 2019, seba­liknya jika dibandingkan Juli 2018 turun 11,96 persen.

Sementara untuk ekspor, per Juli 2019 nilainya menca­pai 15,45 miliar dollar AS atau meningkat 31,02 persen diban­ding ekspor pada Juni 2019. Namun, angka itu turun diban­dingkan capaian pada Juli 2018 dengan penurunan mencapai 5,12 persen.

Khusus untuk ekspor non­migas pada Juli 2019 men­capai 13,85 miliar dollar AS, naik 25,33 persen dibanding Juni 2019. Namun, nilai itu tu­run 6,88 persen dibandingkan capaian pada Juli 2018.

“Trade Diversion”

Sementara itu, Peneliti Eko­nomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira me­nyampaikan pembengkakan impor dari Tiongkok akibat dampak perang dagang den­gan Amerika Serikat (AS). Kare­nanya, Tiongkok mengalihkan perdagangan produknya (trade diversion) ke Indonesia.

Menurut Bhima, dipilihnya RI karena konsumsi yang stabil yang ditunjang oleh populasi penduduk yan banyak. Selain itu, proyek infrastruktur yang sedang dikerjakan pemerintah juga bahan bakunya banyak dari negara di kawasan Asia Timur tersebut.

“Perlu dicermati apakah karena barangnya berkualitas dan lebih murah seperti produk besi baja yang ditenggari men­gandung damping. Inilah yang kemudian bisa berdampak cu­kup signifikan lonjakan impor dari Tiongkok,” kata Bhima,

Di sisi lain, defisit neraca perdagangan ke Tiongkok juga dipicu oleh nilai ekspor In­donesia rendah. Seiring pen­ingkatan tensi perang dagang, permintaan ekspor produksi RI oleh Tiongkok khusus tambang dan perkebunan, turun.

Untuk itu, lanjut Bhima, pemerintah harus mulai mem­proteksi barang-barang dari Tiongkok, khususnya melalui metode hambatan nontarif, termasuk dengan standar na­sional Indonesia (SNI). Penga­wasannya juga lebih ketat dan penggunaan produksi lokal untuk proyek infrastuktur se­hingga konten impor turun. ers/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment