Koran Jakarta | June 27 2019
No Comments
Perang Dagang

Xi Jinping Tak Datang ke G20, Trump Ancam Naikkan Tarif Impor

Xi Jinping Tak Datang ke G20, Trump Ancam Naikkan Tarif Impor

Foto : LUDOVIC MARIN/AFP - TIMOTHY A CLARY AND NICHOLAS KAMM/AFP
A   A   A   Pengaturan Font

WASHINGTON – Men­jelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 pada 28–29 Juni, di Osaka, Jepang, Pre­siden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, pada Senin (10/6), kembali menyampai­kan ancaman menaikkan ta­rif impor bagi barang-barang Tiongkok, Presiden Xi Jinping tidak menghadiri pertemuan kedua pemimpin muka yang telah direncanakan di sela-sela acara. Trump juga menegas­kan bahwa Tiongkok tidak akan pernah menyalip ekonomi AS.

“Ya, itu akan terjadi,” kata Trump kepada CNBC.

Trump mengatakan per­temuan itu telah dijadwalkan, dan dia mengharapkan Xi akan hadir.

“Saya akan terkejut jika dia tidak datang. Saya pikir dia akan hadir, saya belum pernah mendengar bahwa dia tidak datang,” tambah dia.

Bulan lalu, juru bicara pe­merintah Tiongkok mengata­kan tidak memiliki informasi soal rencana pertemuan kedua pemimpin itu. Trump telah berusaha membuat perubah­an mendasar pada kebijakan perdagangan Tiongkok, yang selama beberapa dekade dian­gap telah menjalankan prak­tik tidak adil dan menimbulkan kerugian pada AS. Kedua belah pihak telah melakukan tawar-menawar hingga perundingan terhenti bulan lalu.

Washington mengatakan, pada menit terakhir Beijing meninggalkan pertemuan, se­mentara Tiongkok mengisya­ratkan telah siap untuk me­lakukan perang dagang jangka panjang untuk melawan tun­tutan AS yang tidak masuk akal. Trump telah mengenakan bea masuk sebesar 25 persen atas impor Tiongkok senilai 200 miliar dollar AS, dan Bei­jing mmebalas dengan sanksi tarif untuk barang-barang AS senilai 60 miliar dollar AS.

Bulan lalu, Trump mengan­cam akan melancarkan tarif atas sisa barang Tiongkok senilai 300 miliar dollar AS yang belum ma­suk daftar, jika tidak ada kema­juan dalam perundingan.

Kantor Perwakilan Dagang AS telah memulai proses untuk menerapkan sanksi tarif yang baru dalam sidang 17 Juni men­datang. Namun, Trump menga­takan belum memutuskan un­tuk memberlakukan tarif baru.

Trump menjadikan instru­men tarif impor sebagai pilar kebijakan luar negeri, dengan alasan memiliki kekuatan ekonomi AS sebagai modal utama untuk memenangkan perselisihan dengan negara pesaing seperti Tiongkok, dan bahkan sekutu dekat AS, seper­ti Kanada, Uni Eropa, dan Mek­siko. AS menuduh Tiongkok telah bertindak curang dalam perdagangan bilateral dengan memaksa importir AS untuk memberikan hak kekayaan in­telektual, menyubsidi perusa­haan negara, dan menjalankan surplus perdagangan yang sa­ngat besar dengan Washington.

Tinggalkan Tiongkok

Trump mengatakan kepada CNBC, dengan menaikkan tarif akan memaksa para produsen untuk meninggalkan Tiongkok sebagai pusat produksi. “Perusa­haan-perusahaan itu akan pin­dah ke lokasi lain dan tidak akan ada tarif,” katanya.

Trump optimistis Tiong­kok akan kalah dalam perang dagang, karena impor negara itu dari AS jauh lebih sedikit, sehingga sulit menerapkan ta­rif sebagai senjata.

“Kami memiliki keuntungan besar, besar. Tiongkok akan membuat kesepakatan karena mereka harus melakukan­nya,” kata dia. AFP/SB/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment